|

Melatih Anak dengan Autisme agar Mampu Membuat Keputusan Sendiri

Orang tua tentu ingin anak dengan Autisme tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan mampu mengambil keputusan sendiri. Namun dalam kenyataannya, banyak dari mereka justru kesulitan membuat pilihan.

Kemampuan membuat pilihan merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang dan kemandirian anak dengan Autisme. Dengan membiasakan mereka untuk memilih, mereka belajar mengenal diri, bertanggung jawab atas keputusan, dan percaya pada kemampuannya sendiri.

Alasan individu dengan Autisme sulit membuat pilihan

Ada beberapa alasan mengapa anak dengan Autisme tampak kesulitan menentukan pilihan, antara lain:

  1. Regulasi emosi
    Individu dengan Autisme kesulitan memutuskan karena emosinya sering meningkat. Meningkatnya emosi tersebut mengarah pada tumbuhnya rasa cemas. Ketika kecemasan tinggi, proses pengambilan keputusan dapat melambat atau terganggu karena perasaan takut atau kewalahan.[1]

  2. Terbiasa rutinitas
    Individu dengan Autisme nyaman dengan rutinitas. Ketika dihadapkan pada pengambilan keputusan, ada kekhawatiran bahwa beberapa hal menjadi tidak pasti. Individu dengan Autisme cenderung menghindari risiko dalam pengambilan keputusan dalam kondisi ambigu karena mereka menghindari pilihan-pilihan dengan kerugian yang tidak dapat diprediksi.[2]

  3. Takut salah
    Individu dengan Autisme memiliki ketakutan bahwa dirinya salah. Ketakutan tersebut berakar dari pengalaman masa lalu, yang membuat Ananda khawatir melakukan kesalahan yang mirip.

Mengapa kemampuan membuat pilihan penting

Melatih individu dengan Autisme untuk membuat pilihan bukan hanya soal kebebasan, tapi juga tentang pembentukan karakter dan kemandirian. Dengan terbiasa membuat pilihan, Ananda akan belajar:

  • Mengenal apa yang ia sukai dan butuhkan,
  • Menunjukkan ketertarikannya,
  • Merasa aman dan dalam kendali, dan siap, dan
  • Mengembangkan rasa percaya diri dan harga diri.[3]

Ketika anak dengan Autisme mampu menentukan pilihannya sendiri, ia akan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan. Anak juga akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, percaya diri, dan mampu menentukan pilihannya.

Langkah-langkah membantu anak belajar membuat pilihan

Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak yang kesulitan membuat pilihan:

  • Bantu dengan visual

Individu dengan Autisme sangat terbantu dengan adanya visual. Contoh sederhana penerapan ini adalah: Buatkan papan visual yang menunjukkan penarikan keripik jagung dan pisang, lalu meminta anak untuk meraih salah satunya lalu mengucapkan kata tersebut, atau mengucapkan kata lalu meraihnya.[4]

  • Bagi keputusan jadi langkah lebih kecil

Orang tua dapat mempertimbangkan untuk membagi sebuah keputusan menjadi keputusan-keputusan kecil. Misalkan soal memilih makanan yang variasinya banyak. Orang tua dapat menanyakan anak mulai dari tipe makanan, lalu mau rasa yang seperti apa, dan lain sebagainya.[5]

  • Gunakan role-play

Bermain peran bisa menjadi salah satu cara mengajarkan pengambilan keputusan. Dengan mensimulasikan skenario kehidupan nyata, bermain peran mendorong anak-anak untuk berpikir sebelum bertindak dan membantu membangun kepercayaan diri dalam mengelola situasi sosial.[6]

  • Berikan waktu untuk berpikir

Beberapa anak butuh waktu untuk memutuskan. Hindari memaksa anak untuk menjawab cepat. Katakan, “Tidak apa-apa kalau kamu mau pikir dulu, nanti kasih tahu ya.” Ini memberi anak kesempatan untuk menimbang dengan tenang.

Bagaimana jika tetap sulit membuat pilihan?

Jika setelah dibimbing anak masih tampak ragu, cemas, atau selalu menolak membuat pilihan, coba perhatikan penyebab di baliknya. Bisa jadi mereka merasa tertekan atau kurang percaya diri terhadap keputusan yang mereka buat.

Orang tua bisa membantu dengan pendekatan yang lebih sabar, lembut, dan penuh empati. Libatkan anak dalam kegiatan sehari-hari yang memberi ruang untuk memilih, seperti memilih camilan, warna alat tulis, atau kegiatan akhir pekan.

Kesimpulan

Mengajarkan individu dengan Autisme untuk membuat pilihan bukan sekadar melatihnya berkata “aku mau ini”, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab terhadap keputusan sendiri. Semakin sering anak diberi kesempatan memilih dan dipercaya, semakin kuat pula kemampuan berpikir mandiri yang akan terbentuk. Dengan dukungan dan kesabaran orang tua, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berani menentukan arah hidupnya, dimulai dari hal-hal kecil di rumah.

Daftar Pustaka

[1] Rodriguez, S. (2025, August 15). Autism and Decision-Making: Overcoming the challenges. Autism Parenting Magazine. https://www.autismparentingmagazine.com/autism-decision-making/?srsltid=AfmBOoq7wzD64npTZeZSBHqT4rglNMj2yC-KYIm25JQEog0-P9dOB-Qz

[2] Macchia, A., Albantakis, L., Zebhauser, P. T., Brandi, M., Schilbach, L., & Brem, A. (2024). Autistic adults avoid unpredictability in Decision-Making. Journal of Autism and Developmental Disorders, 55(12), 4234–4246. https://doi.org/10.1007/s10803-024-06503-2

[3] Bennie, M. (2024, October 2). Making Choices – autism awareness. Autism Awareness. https://autismawarenesscentre.com/making-choices/

[4] Barbera, M. (2025, March 12). Autism and decision making skills – Dr. Mary Barbera. Dr. Mary Barbera. https://marybarbera.com/decision-making-choices-autism/

[5] Op.cit. No.1

[6] Teaching decision-making skills in autistic youth. (n.d.). https://www.skillbuildersaba.com/blog/teaching-decision-making-skills-in-autistic-youth

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *