|

Menumbuhkan Hubungan Harmonis antara Orang Tua dan Anak dengan Autisme

Hubungan harmonis orang tua – anak menjadi hal yang sangat penting bagi keluarga. Ketika bicara anak dengan Autisme, hubungan orang tua – anak membutuhkan usaha yang signifikan karena keunikan mereka. Namun, keunikan tersebut dapat menjadi kekuatan yang luar bisa yang dapat memperkuat hubungan orang tua dan anak.

Mengapa membangun hubungan harmonis sangat krusial? Apa saja tantangan yang sering muncul? Apa saja langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan? Mari kita mulai membahas pertanyaan ini satu per satu.

Mengapa relasi yang harmonis itu penting

Ketika anak lahir ke dunia, dia menangis. Mendengar tangisan anak, orang tua – terutama Ibu – secara instingtif memberikan perhatian yang luar biasa. Ada rasa untuk menyayangi dan melindungi anak. Dari sini, interaksi mulai terjalin.

Hubungan antara orang tua dan anak merupakan interaksi yang secara alami terbentuk. Interaksi yang sehat menciptakan hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak. Itupun juga berlaku kepada orang tua dan anak dengan Autisme.

Kunci utama hubungan yang harmonis adalah penerimaan terhadap kondisi anak. Ketika orang tua menerima, orang tua daoat menyediakan pasokan cinta dan kasih sayang kepada Ananda. Ketika anak dengan Autisme merasa diterima dan dicintai tanpa syarat, ia akan lebih tenang, percaya diri, dan terbuka terhadap proses belajar.

Perkembangan anak dengan Autisme sangat dipengaruhi oleh seberapa intens orang tua menghabiskan waktu. Terlebih, salah satu kunci penting bagi perkembangan optimal anak dengan Autisme adalah keterlibatan orang tua, terutama dalam intervensi dini.

Elder et al. (2017) mengungkapkan, intervensi dini secara aktif berfokus pada meningkatkan interaksi orang tua-anak dengan mengajarkan prosedur dan strategi kepada orang tua untuk digunakan selama rutinitas harian. Interaksi tersebut memperkaya pengalaman anak dan meningkatkan hubungan awal anak dengan orang lain.[1]

Hubungan yang baik memberi manfaat bagi orang tua. Mereka akan merasa lebih sabar, memahami kebutuhan anak dengan lebih baik, dan lebih siap menghadapi tantangan sehari-hari.

Tantangan dalam menjalin hubungan dengan anak dengan Autisme

Dalam perjalanannya, membangun hubungan yang kuat antara orang tua dengan Ananda tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak tantangan yang menghambat relasi antara anak dan orang tua:

  1. Lelah emosional
    Penyebab emosi yang kurang stabil beragam. Misalnya, orang tua menjalankan peran ganda sebagai caregiver dan juga terapis tentu sangat melelahkan. Belum lagi ada rasa malu karena stigma negatif ketika membawa Ananda ke tempat publik.[2] Kedua hal tersebut turut berkontribusi pada kelelahan emosional orang tua, khususnya Ibu.
  2. Kesibukan orang tua
    Tidak jarang ada sebagian orang tua yang harus mencari nafkah untuk dapat membiayai terapi. Konsekuensinya adalah waktu bersama anak menjadi terbatas, dan komunikasi berkurang, yang membuat anak sulit merasa dekat atau terhubung dengan orang tua.
  3. Hubungan Ayah dan Ibu kurang harmonis
    Ketegangan dalam hubungan pasangan sering kali dirasakan oleh anak. Bahkan, ada pasangan yang menolak mengakui bahwa anaknya menyandang Autisme.[3] 

Selain faktor-faktor di atas, anak dengan Autisme juga dapat menghadirkan tantangan tersendiri, seperti:

  • Kesulitan berkomunikasi, di manaanak mungkin tidak merespons atau sulit mengekspresikan keinginannya.[4]
  • Respons emosi yang berbeda, di mana anak tidak selalu menunjukkan ekspresi kasih sayang dengan cara yang biasa.[5]
  • Rutinitas yang kaku yang membuat perubahan kecil bisa menimbulkan stres.[6]

Memahami kedua sisi akan membantu menciptakan interaksi yang lebih lembut dan saling memahami.

Langkah praktis membangun relasi yang harmonis

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk memperkuat hubungan dengan anak dengan Autisme:

  • Pahami cara anak berkomunikasi

    Ada anak dengan Autisme yang lebih nyaman menggunakan isyarat tubuh, gambar, atau alat bantu visual. Orang tua perlu menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi anak, bukan memaksanya untuk beradaptasi secara instan. Misalnya, jika anak menunjuk sesuatu, orang tua bisa menanggapi dengan lembut, “Kamu mau itu, ya?” agar anak belajar bahwa tindakannya dipahami.

    • Luangkan waktu khusus setiap hari

    Kehangatan muncul dari kebersamaan yang konsisten. Sisihkan waktu 10–15 menit setiap hari untuk berinteraksi tanpa gangguan. Kegiatan sederhana seperti bermain, membaca buku, atau hanya duduk bersama sudah bisa mempererat hubungan emosional.

    • Tunjukkan kasih sayang dengan cara yang anak pahami

    Tidak semua anak nyaman dengan pelukan. Beberapa anak mungkin lebih suka tepukan lembut di bahu atau kata-kata yang menenangkan. Perhatikan bagaimana anak merespons bentuk perhatian, lalu gunakan cara yang membuatnya nyaman.

    • Ajarkan fleksibilitas secara perlahan

    Rutinitas memberi rasa aman bagi anak dengan Autisme. Namun, kehidupan tidak selalu bisa ditebak. Mulailah memperkenalkan perubahan kecil, seperti mengganti urutan aktivitas, agar anak belajar beradaptasi tanpa merasa cemas.

    • Jaga emosi orang tua

    Hubungan yang harmonis berawal dari emosi orang tua yang stabil. Jika orang tua sedang lelah, marah, atau sedih, sebaiknya ambil jeda sebelum berinteraksi dengan anak. Beberapa cara yang bisa membantu menjaga emosi antara lain:

    • Menyadari batas diri dan tidak memaksakan kesempurnaan.
    • Mengatur waktu istirahat dan tidur yang cukup.
    • Berbagi cerita dengan pasangan, keluarga, atau komunitas orang tua yang memiliki anak dengan Autisme.
    • Melatih pernapasan atau relaksasi sederhana saat mulai merasa stres.

    Ketika orang tua tenang, anak pun akan lebih mudah merasa aman dan meniru ketenangan tersebut.

    Daftar Pustaka

    [1] Elder, J. H., Kreider, C. M., Brasher, S. N., & Ansell, M. (2017). Clinical impact of early diagnosis of autism on the prognosis and parent–child relationships. Taylor & Francis. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.2147/PRBM.S117499

    [2] Yaacob, W. N. W., Yaacob, L. H., Muhamad, R., & Zulkifli, M. M. (2021). Behind the Scenes of Parents Nurturing a Child with Autism: A Qualitative Study in Malaysia. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(16), 8532. https://doi.org/10.3390/ijerph18168532

    [3] Ibid

    [4] Ibid

    [5] Marsh, E. (2025, June 19). Autism and emotions: How and why do autistic people process emotions differently? – Reframing autism. Reframing Autism. https://reframingautism.org.au/autism-and-emotions-how-and-why-do-autistic-people-process-emotions-differently/

    [6] Changing routines: autistic children and teenagers. (2024, May 13). Raising Children Network. https://raisingchildren.net.au/autism/behaviour/understanding-behaviour/changing-routines-asd

    Similar Posts

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *