|

Kalau Saya Tidak Ada, Bagaimana Anak Saya?”: Mempersiapkan Kemandirian Anak dengan Autisme

Kalau saya enggak ada atau bapaknya enggak ada, terus gimana nasib anak ini?”

Kekhawatiran tersebut mungkin pernah muncul di benak banyak orang tua yang memiliki anak dengan Autisme. Bukan karena orang tua tidak percaya pada kemampuan anak, tetapi karena mereka menyadari bahwa suatu hari nanti anak perlu menjalani hidupnya sendiri.

Pertanyaan itulah yang kemudian menjadi salah satu alasan Poppy Arumiwulandari berusaha membangun kemandirian putranya, Hilmi. Menurutnya, kemandirian tidak berhenti pada kemampuan anak untuk melakukan aktivitas sendiri di rumah. Anak juga perlu dipersiapkan agar mampu menghadapi keluarga, lingkungan, dan masyarakat ketika orang tua tidak selalu berada di sampingnya.

Perjalanan tersebut tentu tidak selalu mudah. Hilmi, yang kini berusia 24 tahun, membutuhkan proses panjang untuk mengembangkan berbagai keterampilan, mulai dari merawat diri, bersiap untuk sekolah, menggunakan transportasi, hingga belajar memasak dan berbelanja. 

This journey itu not easy, tapi begitu ada perubahan kecil saja, kita semua tuh bersama-sama bersyukur sekali, apa pun perubahannya.”

Lantas, bagaimana orang tua dapat membantu anak dengan Autisme membangun kemandirian?

Mulai dari Life Skill yang Sederhana

Menurut Poppy, kemandirian anak dapat dimulai dari aktivitas sederhana yang dilakukan setiap hari di rumah. Dia kemudian menceritakan beberapa keterampilan yang dilatihkan kepada Hilmi, mulai dari membersihkan diri, memenuhi kebutuhan makan dan minum, bersiap ke sekolah, hingga belajar menggunakan transportasi.

Bagi psikolog klinis Ratih Ibrahim, kemampuan tersebut merupakan bagian penting dari keterampilan hidup. Ratih bahkan mengingatkan orang tua agar tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik seperti membaca dan berhitung.

“Saya sebagai seorang psikolog klinis lebih fokus pada life skills. Jadi bagaimana dia bisa membersihkan diri sendiri… pipis, pup itu dia bisa bersihkan sendiri… Intinya life hygiene.”

Keterampilan lain yang dapat dilatih antara lain menyikat gigi, mencuci muka, keramas, makan, hingga menyiapkan makanan sendiri.

Orang tua dapat memulainya dengan:

  1. Memilih satu keterampilan yang paling dibutuhkan anak.
  2. Memecah aktivitas menjadi langkah-langkah kecil.
  3. Memberikan bantuan sesuai kebutuhan.
  4. Mengurangi bantuan secara perlahan.
  5. Mengulang aktivitas sampai anak terbiasa.

Latihan Konsisten dan Sesuaikan dengan Potensi Anak

Setiap anak dengan Autisme memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, metode yang berhasil pada satu anak belum tentu berhasil pada anak lainnya.

Ratih menjelaskan bahwa orang tua perlu memahami kebutuhan dan kemampuan anak terlebih dahulu. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah familiarisasi, yaitu memperkenalkan anak pada situasi atau aktivitas baru secara bertahap. Jika anak sudah merasa familiar, kecemasan dapat berkurang sehingga anak lebih siap mengikuti aktivitas.

Pengalaman Hilmi juga menunjukkan bagaimana satu aktivitas dapat dikembangkan menjadi berbagai keterampilan. Karena Hilmi menyukai memasak dan membuat roti, Poppy memasukkannya ke kursus memasak khusus untuk anak berkebutuhan khusus.

Prosesnya tidak instan. Hilmi membutuhkan lebih dari 6 bulan untuk memahami resep. Dia kemudian belajar menimbang bahan, menyiapkan peralatan, hingga berbelanja sendiri di toko dengan pendampingan guru.

Dari satu aktivitas memasak, Hilmi sekaligus belajar membaca, berhitung, mengikuti instruksi, menyiapkan kebutuhan, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan lingkungan.

Karena itu, orang tua dapat mencoba:

  • Mengamati minat anak.
  • Menggunakan minat tersebut sebagai media belajar.
  • Memberikan instruksi yang jelas dan sederhana.
  • Menggunakan gambar atau foto jika anak lebih mudah belajar secara visual.
  • Melakukan latihan secara konsisten dan berulang kali.

Orang Tua Juga Perlu Mengelola Ekspektasi

Membangun kemandirian anak bukan hanya soal melatih anak. Orang tua juga perlu mempersiapkan diri secara emosional.

Poppy mengakui bahwa dirinya pernah mengalami kecemasan yang cukup tinggi saat mendampingi Hilmi. Dalam prosesnya, Poppy menyadari bahwa kondisi emosional orang tua dapat memengaruhi anak.

“Saya tuh memang punya kecemasan yang cukup tinggi… kemudian, Ananda, kalau saya cemas, Hilmi juga akan ikut cemas…”

Dia perlahan belajar mengelola emosi dirinya sendiri.

“Keberhasilan anak ini adalah kalau orang tuanya juga mampu tenang, mampu meregulasi dirinya sendiri. Itu penting banget sih menurut saya.”

Ratih pun mengingatkan bahwa orang tua perlu menerima kondisi anak dan mengelola ekspektasi secara realistis. Menurutnya, proses tersebut merupakan pembelajaran jangka panjang.

“Kita memang perlu belajar dan ini adalah perjuangan kita seumur hidup… mengelola ekspektasi supaya kita bisa lebih realistis.”

Selain itu, orang tua juga perlu membangun sistem pendukung dari pasangan, keluarga, saudara, maupun komunitas.

“Kita mesti sehat, teman-teman… sehat lahir batin harus diupayakan… dan tentu juga perlu membangun support team, baik sibling dari anak kita, keluarga kita, maupun komunitas.”

Kemandirian anak dengan Autisme bukan perlombaan untuk mencapai standar anak lain. Setiap kemampuan baru yang berhasil dilakukan merupakan bagian dari perkembangan.

Seperti yang dikatakan Poppy, perjalanan tersebut memang tidak mudah. Namun, ketika anak menunjukkan kemajuan sekecil apa pun, orang tua dapat melihatnya sebagai sesuatu yang patut disyukuri.

Kemandirian tidak dibangun dalam satu hari. Ia tumbuh dari latihan kecil, pengulangan, dukungan, dan kesempatan yang diberikan kepada anak untuk terus mencoba.

Artikel ini merupakan rangkuman dari Zoominar Mengatasi Tantangan, Membangun Kemandirian, pada Sabtu, 21 Desember 2024.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *