|

Peran Penting Ayah bagi Anak dengan Autisme: Menemani dan Membimbing dengan Cinta

Ketika membicarakan pengasuhan anak dengan Autisme, perhatian publik sering kali tertuju pada peran ibu. Namun demikian, peran tersebut tidak hanya terpusat pada Ibu saja. Peran ayah bagi anak dengan Autisme sama pentingnya, bahkan memberi kontribusi unik yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Ayah adalah sosok yang menemani, membimbing, dan menjadi pijakan emosional bagi anak dalam menghadapi dunia yang sering kali terasa membingungkan bagi mereka.

Ayah adalah pilar keluarga

Peran ayah dalam keluarga dengan anak Autisme bersifat multidimensional. Ayah menjalankan fungsi ekonomi, terlibat aktif dalam pengasuhan harian, pendampingan terapi, pendidikan anak, hingga dukungan emosional bagi pasangan dan anak. Kehadiran ayah yang stabil dan suportif terbukti membantu menjaga keseimbangan emosional keluarga, terutama pada fase awal ketika orang tua menghadapi kenyataan diagnosis anaknya.[1]

Selain itu, banyak ayah rela menyesuaikan pola kerja, bahkan berganti karier, demi memastikan mereka tetap dapat mendampingi anak secara konsisten. Ini menunjukkan bahwa keterlibatan ayah bukan sekadar kewajiban moral, melainkan pilihan sadar yang lahir dari kasih sayang.

Gaya pengasuhan ayah pelengkap ibu

Salah satu alasan mengapa keterlibatan ayah begitu berharga adalah gaya interaksinya yang khas. Ayah cenderung mengasuh dengan cara yang lebih aktif dan tidak selalu mudah ditebak, misalnya melalui permainan fisik yang menstimulasi perkembangan kognitif dan sosial anak. Ayah juga cenderung mengajarkan anak melalui contoh langsung dan pengalaman, termasuk cara menghadapi frustrasi dengan tidak selalu memberikan bantuan secara instan, sehingga anak terlatih membangun keterampilan mengatasi masalah sendiri.[2]

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa keterlibatan ayah berhubungan dengan peningkatan keterampilan bermain, perkembangan bahasa, dan keterlibatan sosial anak dengan Autisme. Ayah bahkan menunjukkan kemajuan yang lebih menonjol dalam hal menyusun struktur interaksi tanpa bersikap terlalu mengintervensi.[3]

Dengan kata lain, gaya pengasuhan ayah dan ibu tidak saling menggantikan, tetapi saling melengkapi. Kombinasi keduanya menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang lebih kaya bagi anak dengan Autisme.

Menemani terapi dan pendidikan anak

Peran ayah pun tidak berhenti disitu. Sebuah survei terhadap 306 ayah di Inggris menemukan bahwa separuh responden mengaku bertanggung jawab utama atau berbagi tanggung jawab dalam rutinitas perawatan harian anak mereka, tanpa memandang usia atau tingkat keparahan diagnosis.[4]

Banyak ayah juga menghabiskan waktu untuk bermain dan membantu pekerjaan sekolah anak, meskipun hampir separuh dari mereka belum pernah mendapat pelatihan khusus terkait autisme. Hambatan terbesar yang mereka hadapi justru tuntutan pekerjaan.[5]

Studi lain menunjukkan hasil yang menggembirakan, di mana setelah mendapat pendampingan singkat, ayah mampu meningkatkan penggunaan strategi komunikasi responsif, yang pada gilirannya berdampak positif pada kemampuan komunikasi anak dengan Autisme.[6]

Menjadi sandaran emosional di tengah tantangan

Membesarkan anak dengan Autisme bukan perjalanan yang mudah. Orang tua kerap mengalami tekanan emosional yang cukup berat sejak masa diagnosis. Di sinilah kehadiran ayah sebagai penopang emosional menjadi sangat berarti, baik bagi anak maupun bagi pasangan.

Kedekatan emosional terbentuk melalui hal-hal sederhana namun konsisten, misalnya ayah yang secara khusus membuat sarana terapi sensorik sederhana di rumah untuk membantu anaknya. Pola asuh otoritatif ayah, yang mengedepankan keteguhan, konsistensi, dan keberanian, membantu remaja dengan Autisme menghadapi masa transisi yang penuh gejolak hormon dan emosi.

Peran emosional ayah sama pentingnya dengan peran finansialnya, terutama dalam memberikan waktu berkualitas bersama anak. Keterlibatan kedua orang tua secara bersama-sama terbukti meningkatkan kesejahteraan emosional dan motivasi anak dengan Autisme.

Menghadapi stigma demi anak

Perjalanan menjadi ayah dari anak dengan Autisme di Indonesia juga tidak lepas dari tantangan budaya dan stigma sosial. Sebuah studi wawancara terhadap 14 ayah di Indonesia mengungkap bahwa banyak dari mereka mulai meninggalkan peran pengasuhan tradisional demi anak, meski harus menghadapi stigma seputar disabilitas dan pengasuhan yang masih kental di masyarakat.[7]

Fakta ini menunjukkan bahwa keterlibatan ayah bukan hanya soal kemauan pribadi, tetapi juga soal keberanian melawan norma lama demi kebaikan anak.

Cara sederhana ayah dapat terlibat lebih aktif

Berikut langkah nyata yang bisa dilakukan ayah untuk lebih terlibat dalam tumbuh kembang anak dengan Autisme:

  1. Luangkan waktu bermain rutin. Permainan fisik dan interaktif membantu menstimulasi kemampuan sosial dan komunikasi anak.
  2. Ikut serta dalam sesi terapi. Kehadiran ayah, meski sesekali, memberi anak rasa aman dan konsistensi.
  3. Bangun rutinitas bersama. Anak dengan Autisme sangat terbantu dengan jadwal yang dapat diprediksi; ayah bisa mengambil peran di waktu-waktu tertentu, misalnya menemani aktivitas sore.
  4. Belajar bersama pasangan. Diskusikan pembagian peran secara terbuka dan jujur, tanpa terjebak stereotip gender lama.
  5. Cari komunitas dan pelatihan. Bergabung dengan komunitas orang tua anak autisme membantu ayah mendapatkan dukungan dan informasi yang tepat.

Ayah memegang peran yang sangat penting bagi anak dengan Autisme. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi benar-benar menemani dan membimbing anak melalui setiap tantangan tumbuh kembangnya. Gaya pengasuhan ayah yang khas, ketika dipadukan dengan peran ibu, menciptakan fondasi yang lebih kuat bagi anak untuk berkembang secara sosial, emosional, dan kognitif.

Bagi para ayah yang memiliki anak dengan Autisme, kehadiran sederhana namun konsisten adalah bentuk cinta yang akan membekas seumur hidup.

Referensi

[1] Universitas Airlangga. (2026, February 23). Peran Ayah Kunci Optimalkan Tumbuh Kembang Anak dengan Autisme. Universitas Airlangga Official Website. https://unair.ac.id/peran-ayah-kunci-optimalkan-tumbuh-kembang-anak-dengan-autisme/

[2] Indonesia, U. U. (2022, June 30). Sosok Ayah dalam Pendampingan Remaja Autis. KOMPAS.com. https://health.kompas.com/read/2022/06/30/090000868/sosok-ayah-dalam-pendampingan-remaja-autis

[3] Perzolli, S., Bertamini, G., Venuti, P., & Bentenuto, A. (2025). Emotional availability in autism intervention: A Mother–Father Comparative analysis. Brain Sciences, 15(2), 133. https://doi.org/10.3390/brainsci15020133

[4] Potter, C. A. (2016). Father involvement in the care, play, and education of children with autism. Journal of Intellectual & Developmental Disability, 42(4), 375–384. https://doi.org/10.3109/13668250.2016.1245851

[5] Ibid

[6] Flippin, M. (2018). 2022 Using father-mediated intervention to increase responsive parental behaviors and child communication in children with autism spectrum disorder: A pilot study. Journal of Clinical and Translational Science, 2(S1), 50. https://doi.org/10.1017/cts.2018.192

[7] Yunianti, E., Nanik, N., & Mulya, T. W. (2025). Analisis wacana kritis ayah yang memiliki anak dengan spektrum autisme. Jurnal Psikologi Ulayat. https://doi.org/10.24854/jpu1158

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *