Mengasuh Anak dengan Autisme Walau Bukan Keluarga Inti
Mengasuh anak dengan Autisme merupakan soal komitmen jangka panjang, empati, dan keberanian mengambil peran yang sering kali dijalani dalam sunyi. Di banyak keluarga, peran caregiver anak dengan Autisme hadir karena keadaan yang menuntut seseorang untuk melangkah lebih jauh dari batas kenyamanan dirinya sendiri.
Itulah yang dialami Sritje. Bukan orang tua kandung, bukan pula keluarga inti, namun ia memutuskan untuk terlibat langsung dalam kehidupan Milad, seorang anak dengan Autisme yang telah kehilangan kedua orang tuanya sejak usia dini. Keputusan itu perlahan membentuk perjalanan pengasuhan yang tidak hanya mengubah Milad, tetapi juga memperkaya makna hidup Sritje sebagai pendamping anak dengan autisme.
Dari asesmen hingga amanah pengasuhan
Perjalanan Sritje sebagai caregiver anak dengan Autisme bermula dari sebuah asesmen. Saat itu, Milad mengikuti penilaian perkembangan di sekolah tempat Sritje bekerja. Ia datang sebagai seorang anak dengan Autisme yang belum mampu berkomunikasi secara verbal, sulit duduk diam, sering mengalami tantrum, dan kerap menyakiti dirinya sendiri ketika keinginannya tidak terpenuhi.
“Waktu pertama kali bertemu, Milad belum bisa bicara, tidak bisa diam, dan kalau keinginannya tidak dipenuhi dia akan membenturkan kepala ke lantai,” ujar Sritje mengenang pertemuan awal mereka.
Milad berasal dari Palu, Sulawesi Tengah, dan merupakan anak dari adik suami sepupu Sritje. Sejak kecil, hidupnya diwarnai kehilangan. Ibunya meninggal dunia ketika Milad berusia dua tahun. Pada usia empat tahun, ayahnya membawanya ke Jakarta untuk menjalani asesmen dan terapi. Namun ketika sang ayah jatuh sakit, Milad kembali ke Palu. Tak lama kemudian, ayahnya meninggal dunia, meninggalkan Milad tanpa kedua orang tua.
Awalnya, amanah merawat Milad jatuh kepada suami sepupu Sritje. Kemudian, Milad kembali ke Jakarta, menjalani terapi di beberapa tempat, dan sempat bersekolah di boarding school khusus anak dengan Autisme. Saat Milad berusia sembilan tahun, boarding school tidak lagi menjadi pilihan. Keluarga yang sudah lanjut usia merasa kesulitan menangani kebutuhan Milad.
Dalam kondisi itulah, Sritje diminta untuk terlibat langsung dalam pengasuhan.
Merawat Milad: proses yang mengalir
Keputusan Sritje untuk merawat Milad tidak lahir dari rencana besar, melainkan karena prihatin melihat kebingungan keluarga Milad dalam menyikapi kebutuhan Milad.
“Keluarga Milad bingung dan tidak tahu bagaimana cara menyikapi anak autis seperti dia. Kami mencoba membantu,” kata Sritje.
Tujuan awalnya sederhana: mempersiapkan Milad agar bisa bertransisi ke sekolah inklusi, belajar bersosialisasi, dan mengurangi perilaku yang membahayakan dirinya sendiri. Dalam perjalanannya sebagai caregiver, Sritje tidak melihat proses ini sebagai tantangan yang berat. Semua dijalani secara bertahap dan mengalir, mengikuti kebutuhan Milad dari waktu ke waktu.
Keyakinan spiritual menjadi fondasi utama dalam proses pengasuhan ini. Sritje memandang Milad sebagai titipan yang harus dirawat dengan sebaik-baiknya, sesuai kemampuan yang dimiliki.
“Segala sesuatu dalam hidup ini terjadi atas izin Allah. Anak ini adalah titipan, jadi harus diasuh dan dirawat dengan baik,” tutur Sritje.
Seiring waktu, refleksi tentang masa depan mulai muncul. Sritje memikirkan tahapan berikutnya dalam kehidupan Milad, bagaimana menyiapkannya agar kelak bisa hidup mandiri dan bermanfaat. Kegelisahan itu terasa lebih kuat karena minimnya dukungan dari keluarga pihak ibu Milad dalam pengasuhan.
Makna setelah merawat Milad
Pendampingan yang konsisten membawa perubahan nyata dalam diri Milad. Kini, Milad mengalami kemajuan yang baik.
“Sekarang Milad sudah bisa komunikasi dua arah, bisa mengungkapkan keinginannya, dan tidak lagi menyakiti dirinya sendiri,” kata Sritje.
Perubahan tersebut menjadi penguat bagi Sritje untuk terus melanjutkan perannya sebagai caregiver anak dengan Autisme. Dari proses membersamai Milad, dia memetik banyak pelajaran hidup: tentang kesabaran tanpa batas, empati, dan pentingnya menghargai potensi anak.
“Saya belajar bahwa setiap anak punya potensi, dan dalam hidup ini tidak ada yang sempurna,” ujarnya.
Bagi Sritje, mengasuh anak dengan Autisme bukan perjalanan yang mudah. Namun dengan niat yang baik, keyakinan bahwa setiap kesulitan selalu disertai kemudahan, serta sikap menerima dengan ikhlas, bersyukur, bersabar, dan terus berikhtiar, perubahan besar dapat tercipta. Baginya, setiap anak memiliki potensi luar biasa dengan caranya sendiri. Terimalah mereka tanpa syarat dan beri mereka kesempatan untuk mandiri. Insya Allah, itu akan membuat mereka bahagia.
Artikel ini merupakan hasil wawancara dengan Sritje, caregiver dari Milad.
