|

Meltdown vs Tantrum Pada Anak dengan Autisme: Kenapa Penanganannya Harus Berbeda?

Pernahkah Anda melihat seorang anak dengan Autisme, berteriak, atau bahkan berguling di lantai di tempat umum? Banyak orang langsung berbisik, “Ah, itu cuma tantrum.” Namun, bagaimana jika yang terjadi sebenarnya adalah meltdown?

Sekilas memang terlihat sama. Sama-sama menangis. Sama-sama tampak sulit dikendalikan. Tetapi perbedaan antara meltdown dan tantrum bagi anak dengan Autisme sangatlah penting. Salah memahami bisa berujung pada penanganan yang keliru, bahkan menyakiti secara emosional.

Apa itu tantrum?

Tantrum adalah perilaku yang biasanya terjadi karena anak tidak bisa melakukan atau memiliki sesuatu yang mereka inginkan.[1] Salah satu tanda bahwa anak tantrum adalah orientasinya ke tujuan atau ada objek yang mereka inginkan.

Lebih lanjut, ciri khas tantrum sebagai berikut:

  • Ada tujuan tertentu (ingin sesuatu)
  • Anak biasanya berhenti jika keinginannya dipenuhi
  • Anak mungkin akan berteriak, menangis, ataupun menjatuhkan diri sendiri

Lalu, Apa Itu Meltdown?

Meltdown berbeda dengan tantrum, terutama dari segi orientasinya. Meltdown pada anak dengan Autisme terjadi karena terlalu banyak rangsangan yang masuk ke dalam dirinya. Pada individu dengan Autisme, sistem sensorik mereka bisa sangat sensitif. Suara keras, lampu terang, keramaian, sentuhan, atau perubahan mendadak bisa terasa sangat intens.

Ketika anak kelebihan sensori, anak dapat mengekspresikan dirinya secara verbal (berteriak, menjerit, menangis), fisik (misalnya menendang, menyerang, menggigit) atau dengan kedua cara tersebut.[2]

Lebih lanjut, ciri khas meltdown adalah sebagai berikut:

  • Kehilangan kontrol atas reaksinya
  • Ditandai dengan stimming
  • Melamun
  • Anak bisa terlihat sangat lelah setelahnya

Kenapa tidak bisa disamakan?

Tantrum dan meltdown tidak bisa disamakan karena satu perbedaan mendasar: penyebab terjadinya. Tantrum terjadi karena adanya motivasi eksternal, misalnya ketika anak menginginkan handphone tetapi tidak diberikan. Sedangkan, meltdown adalah situasi kehilangan kendali atas emosinya karena kelebihan rangsangan.

Anak dengan Autisme yang meltdown pun juga ada yang berteriak jika panik. Bayangkan situasi di mana anak berada di ruang keluarga yang ramai. Orang berbicara bersamaan, lampu sangat terang, dan anak tidak bisa keluar. Dalam durasi yang lama, tubuh akan merasa panik. Itulah yang dirasakan anak dengan Autisme saat meltdown.

Jika tantrum biasanya membutuhkan batasan dan konsistensi, meltdown justru membutuhkan perlindungan dan ketenangan.

Secara umum, anak yang mengalami perubahan perilaku berarti bahwa anak tersebut memiliki kesulitan dalam meregulasi emosinya.[3] Jika kita memperlakukan meltdown seperti tantrum, misalnya dengan memarahi, mengancam, atau mengabaikan, kondisi bisa semakin memburuk.

Perbedaan cara penanganan

Berikut perbedaan pendekatannya:

Saat Tantrum:

  • Tetap tenang
  • Berikan batasan yang konsisten
  • Memberikan pilihan
  • Ajarkan cara mengungkapkan perasaan
  • Membuat rutinitas yang konsisten

Saat Meltdown:

  • Pindahkan ke tempat tenang
  • Jangan memarahi
  • Minimalkan bicara
  • Pastikan keamanan anak

Tantangan di Masyarakat

Masalahnya, masyarakat sering kali tidak tahu perbedaan ini. Orang tua anak dengan Autisme kerap mendapat tatapan tajam, komentar menyakitkan, atau bahkan dianggap tidak bisa mendidik anak.

Label “nakal”, “manja”, atau “kurang disiplin” bisa melukai keluarga. Padahal, yang terjadi bukan soal pola asuh, melainkan kondisi neurologis.

Inilah mengapa edukasi publik menjadi penting. Kita mungkin tidak selalu bisa membedakan dengan pasti apakah seorang anak sedang tantrum atau meltdown. Tetapi kita bisa memilih untuk tidak menghakimi.

Alih-alih berbisik atau menatap sinis, kita bisa:

  • Memberi ruang
  • Tidak menambah tekanan
  • Menunjukkan empati

Satu sikap kecil dari masyarakat bisa sangat berarti bagi keluarga yang sedang berjuang. Pada akhirnya, memahami Autisme bukan hanya tugas orang tua atau guru. Ini tugas kita bersama.

Meltdown dan tantrum memang terlihat serupa di permukaan. Tetapi di baliknya, ada proses yang sangat berbeda. Dan perbedaan itu menentukan bagaimana kita seharusnya merespons. Mari belajar untuk tidak langsung memberi label. Mari belajar untuk melihat lebih dalam. Ketika kita memahami, kita tidak hanya membantu anak dengan Autisme, kita juga membantu menciptakan masyarakat yang lebih manusiawi.

Daftar pustaka

[1] Longo, S. (2025, September 10). Managing autism meltdowns, tantrums and aggression. Autism Parenting Magazine. https://www.autismparentingmagazine.com/autism-meltdowns/?srsltid=AfmBOopGPOiOMTcTRsCpoPErNcsjlxdoY2YRa_9O44Mf4uH9Q4_Iw6d3

[2] Meltdowns – a guide for all audiences. (n.d.). https://www.autism.org.uk/advice-and-guidance/behaviour/meltdowns/all-audiences

[3] Expert Q&A: Understanding autism emotional regulation | Autism Speaks. (n.d.). Autism Speaks. https://www.autismspeaks.org/blog/autism-emotional-regulation

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *