Ketika Hidup Sulit, Indomie Jadi Kemewahan: Cara Lia Juwita Bangkit demi Dewangga
Tidak ada buku panduan untuk menjadi orang tua. Semua belajar sambil berjalan, mulai dari menghadapi kejutan, kegagalan, dan kemenangan kecil yang tidak terlihat. Namun tantangannya menjadi jauh lebih besar ketika seorang ibu harus membesarkan anak dengan Autisme, sendirian.
Itulah perjalanan Lia Juwita, ibu tunggal dari seorang anak bernama Dewangga, remaja penyandang Autisme. Hari ini, banyak orang mengenal Dewangga sebagai atlet berprestasi yang mengharumkan nama Indonesia. Tetapi di balik semua medali dan tepuk tangan itu, berdiri sosok ibu yang tangguh, yang tidak pernah menyerah meski dunia berkali-kali menguji kesabarannya.
Ibu tunggal yang tahan banting
Bagi banyak keluarga, membesarkan anak merupakan buah kerja sama antara ayah dan ibu, termasuk membesarkan anak dengan Autisme. Akan tetapi tidak demikian bagi Lia. Ketika mengetahui kondisi Dewangga, sang ayah memilih untuk pergi dan tidak menerima keadaan tersebut. Sejak saat itu, semua berada di pundak Lia seorang diri.
Tidak mudah membesarkan anak seorang diri, apalagi anak dengan Autisme. Ada aturan khusus, rutinitas terapi, dan tuntutan kesabaran yang tidak semua orang mampu jalani. Akan tetapi, bagi Lia, menyerah bukan pilihan. Dia menghiraukan stigma masyarakat soal Autisme. Yang ada di pikirannya hanya satu: bagaimana memenuhi kebutuhan anaknya.
“Waktu Dewangga kecil, saya mencari rezeki sambil jaga anak melalui jualan online, fokus pada anak dengan meninggalkan dunia sosialita,” kata Lia mengenang masa awal perjuangannya.
Di tengah kesibukan mencari nafkah, Lia tetap merasakan kekosongan besar: tidak ada yang mendampingi ketika ia sendiri kelelahan, sakit, atau takut.
“Ketika saya sakit dan anak tidak ada yang rawat, saat itu saya benar-benar membutuhkan pendamping hidup.”
Di saat paling rapuh, Tuhan menghadirkan pertolongan melalui keluarga yang siap menjaga Dewangga sementara Lia memulihkan kesehatan. Dari situ Lia belajar bahwa dalam masa paling gelap, selalu ada tangan-tangan baik yang hadir menyelamatkan.
Berada di titik terendah
Sakit bukan satu-satunya cobaan. Dalam salah satu fase paling berat, kondisi ekonomi membuat Lia dan Dewangga harus melewati hari-hari dengan sangat sederhana, bahkan terlalu sederhana.
“Bahkan Indomie pun adalah makanan termewah bagi saya, itu pernah. Sampai anak saya dititip ke bibi saya dan saya meninggalkan anak karena fokus bekerja di beda kota,” tutur Lia mengenang masa-masa sulit tersebut.
Bagi orang lain, Indomie mungkin makanan murah. Tetapi bagi Lia dan Dewangga saat itu, Indomie adalah makanan istimewa, simbol bahwa mereka masih bisa bertahan.
Meski terasa pahit, Lia tidak pernah kehilangan harapan. Ia yakin Tuhan memberikan akal, tenaga, dan peluang yang dapat diusahakan. Lia terus mencari pekerjaan yang lebih baik demi masa depan anaknya. Hingga akhirnya, ia mendapat kesempatan di Karawang dan perlahan kondisi ekonominya membaik. Semua pengorbanan mulai terbayar.
Syukur menjadi prinsip hidup
Hidup tidak pernah sepenuhnya lembut. Ada saat kita merasa gagal, jatuh, dan tidak punya apa-apa lagi selain doa. Berat memang melalui kehidupan dengan banyak terpaan badai. Namun begitu, Lia memiliki senjata terkuatnya, yakni rasa syukur dan keyakinan.
“Semua yang terjadi saya selalu syukuri, dan saya sangat yakin bahwa saya bisa melewati semua dengan mudah dan anak saya akan sukses seperti impian saya.”
Dengan syukur dan keyakinan yang kuat, Lia mampu melihat cahaya dalam kegelapan. Dia menemukan kekuatan untuk bangkit berkali-kali. Dan dengan syukur dan keyakinan, dia berhasil membesarkan seorang anak yang kini menjadi role model bagi banyak anak penyandang Autisme.
Hari ini, Dewangga telah menorehkan prestasi di dunia olahraga dan menjadi teladan bahwa anak berkebutuhan khusus pun bisa bersinar dengan kesempatan dan dukungan yang tepat. Jika dulu Lia menyerah, mungkin dunia tidak akan pernah mengenal Dewangga sebagai seorang atlet berprestasi dan inspirasi bagi banyak orang.
Jangan pernah menyerah
Untuk semua ibu yang kini sedang berjuang, yang mungkin menangis diam-diam, merasa gagal, atau kehabisan tenaga, Lia menyampaikan pesan dari hatinya.
“Jangan pernah pesimis ketika anak Anda berkebutuhan khusus. Di balik kekurangan anak Anda ada sesuatu yang tersembunyi yang bisa diasah dan digali, yang akan menjadi sesuatu yang istimewa. Jangan pernah menyerah, karena tidak semata-mata Tuhan memberikan hadiah istimewa ini kalau kita tidak bisa melaluinya dengan baik.”
Menyerah tidak ada dalam kamus hidup Lia. Ia percaya tidak ada yang mustahil jika kita memilih untuk terus melangkah dan berpikir positif.
Ubah kata mungkin menjadi KITA PASTI BISA.
Dan Lia telah membuktikannya.
Artikel ini merupakan hasil wawancara tim MPATI dengan Lia Juwita, Ibunda dari Dewangga, remaja penyandang Autisme yang kini menjadi atlit berprestasi.
