Penyebab Autisme

1Apakah anak saya terdiagnosa dengan Autisme karena saya stress ketika hamil?

Tidak.
Munculnya Autisme pada anak tidaklah disebabkan oleh ibu yang sedang stress pada saat hamil. Walaupun hingga kini para ahli dunia belum menemukan penyebab pasti munculnya Autisme, stress bukanlah merupakan salah satu dari penyebab yang diselidiki. Banyak ibu yang stress pada saat hamil tetapi tidak melahirkan seorang anak dengan Autisme.

2Apakah karena pola asuh yang salah?

Tidak.
Di jaman dahulu sekitar tahun 1960-an anak dengan Autisme dianggap sebagai produk keluarga yang “dingin”, yang tidak mewujudkan kasih sayang dalam bentuk pelukan, ciuman atau pujian. Di Amerika, para ibu yang kurang memberi kasih sayang nyata, dituduh menjadi penyebab fenomena anak dengan Autisme. Namun, di era 1970 – 1980 an di Amerika, telah dibuktikan bahwa anak dengan Autisme ini lahir dari keluarga, agama dari strata sosial manapun, yang tidak hanya hangat, tetapi mereka juga saling mengasihi. Perlu diingat, karena anak dengan Autisme ini seringkali kurang dapat menunjukkan ekspresi atas emosi yang mereka rasakan, kadangkala perasaan bahwa kita (sebagai orang tua) tidak dapat memberi kasih sayang itu muncul karena anak anak ini tidak memberi reaksi, saat kita memeluk mereka. Anak dengan Autisme cenderung meronta saat dipeluk, tidak bereaksi saat dipanggil namanya dan menghindari kontak mata saat kita menatap wajah mereka. Saat ini, penyelidikan mengenai penyebab Autisme banyak diarahkan pada riset biologis terutama pada susunan syaraf di otak.

3Apa salah saya sehingga anak saya terdiagnosa dengan Autisme ?

Tidak ada satupun manusia yang luput dari kesalahan. Anak dengan Autisme itu tidak diamanatkan pada sebuah keluarga karena kesalahan dari orang tuanya.
Autisme adalah gangguan perkembangan. Apakah orang tuanya salah atau tidak, gangguan perkembangan ini akan terjadi secara random atau acak. Tidak peduli suku, agama, ras maupun status sosial dari keluarga tersebut.
Yang sering terjadi, orang tua merasa bersalah pada saat mereka mengetahui putra/putrinya didiagnosa dengan Autisme. Ini adalah hal yang wajar, seperti yang diungkapkan oleh Elizabeth Kubler Ross dalam bukunya “In Death and Dying”. Beliau menyatakan bahwa manusia memiliki reaksi-reaksi tertentu dalam menghadapi cobaan dalam hidup ini.
Ia membaginya menjadi 5 tahap (dalam konteks orang tua dari anak-anak dengan kebutuhan khusus). Tahapan ini bisa dijelaskan sebagai berikut :
Tahap pertama : MENOLAK MENERIMA KENYATAAN (DENIAL)
Tahap kedua : MARAH (ANGER)
Tahap ketiga : MENAWAR (BARGAINING)
Tahap keempat : DEPRESI (DEPRESSION)
Tahap kelima : PASRAH MENERIMA KENYATAAN (ACCEPTANCE)
1. TAHAP MENOLAK MENERIMA KENYATAAN (DENIAL)
Biasanya ditandai dari rasa tidak percaya saat menerima diagnosa. Perasaan orang tua selanjutnya akan diliputi kebingungan. Bingung atas artinya diagnosa, bingung akan apa yang harus dilakukan sekaligus, bingung mengapa hal ini dapat terjadi pada anak mereka?
Kebingungan ini sangat manusiawi, karena umumnya orang tua mengharapkan yang terbaik untuk keturunan mereka. Tidak mudah bagi orang tua manapun untuk dapat menerima apa yang sebenarnya terjadi. Kadangkala terselip rasa malu pada orang tua untuk mengakui bahwa hal tersebut dapat terjadi di keluarga mereka. Keadaan bisa menjadi bertambah buruk, jika keluarga tersebut mengalami tekanan sosial dari lingkungan untuk memberikan keturunan yang ‘sempurna’. Kadang dalam hati muncul pernyataan ‘tidak mungkin hal ini terjadi pada anak saya’ atau ‘tidak pernah terjadi keadaan seperti ini di keluarga kami.’
2. TAHAP MARAH (ANGER)
Biasa dilampiaskan kepada beberapa pihak sekaligus. Bisa kepada dokter yang memberi diagnosa. Bisa kepada diri sendiri atau kepada pasangan hidup. Bisa juga muncul dalam bentuk menolak untuk mengasuh anak tersebut. Pernyataan yang sering timbul dalam hati (sebagai reaksi atas rasa marah) muncul dalam bentuk “Tidak adil rasanya…” Mengapa kami yang mengalami ini? Atau “Apa salah kami?”
3. TAHAP MENAWAR (BARGAINING)
Pada tahap ini orang tua berusaha untuk menghibur diri dengan pernyataan seperti : “Mungkin kalau kami menunggu lebih lama lagi, keadaan akan membaik dengan sendirinya.”
4. TAHAP DEPRESI (DEPRESSION)
Muncul dalam bentuk putus asa, tertekan dan kehilangan harapan. Kadangkala depresi dapat juga menimbulkan rasa bersalah, terutama di pihak ibu, yang khawatir apakah keadaan anak mereka merupakan akibat dari kelalaian selama hamil, atau akibat dosa di masa lalu. Ayah pun sering dihinggapi rasa bersalah, karena merasa tidak dapat memberikan keturunan yang sempurna.
Putus asa, sebagai bagian dari depresi, akan muncul saat orang tua mulai membayangkan masa depan yang akan dihadapi sang anak. Terutama jika mereka memikirkan siapa yang dapat mengasuh anak mereka, pada saat mereka meninggal.
Harapan atas masa depan anak menjadi keruh dan muncul dalam bentuk pertanyaan : “Akankah anak kami mampu hidup mandiri dan berguna bagi orang lain?” Pada tahap depresi, orang tua cenderung murung, menghindar dari lingkungan sosial terdekat, lelah sepanjang waktu dan kehilangan gairah hidup.
5. TAHAP PASRAH DAN MENERIMA KENYATAAN (ACCEPTANCE)
Pada tahap ini, orang tua sudah menerima kenyataan baik secara emosi maupun intelektual. Sambil mengupayakan “penyembuhan”, mereka mengubah persepsi dan harapan atas anak. Orang tua pada tahap ini cenderung mengharapkan yang terbaik sesuai dengan kapasitas dan kemampuan anak mereka.

4Apakah ini santet yang dikirim ke keluarga saya?

Mari kita tidak terpaku atas sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Kalau Autisme terjadi karena santet, seharusnya di Amerika, Australia, Eropa tidak terjadi Autisme, karena santet tidak populer di negara maju seperti negara- negara tersebut. Jadi, santet dan Autisme adalah 2 hal berbeda yang tidak saling berhubungan.

5Apakah anak saya terdiagnosa dengan Autisme karena suami membunuh binatang ketika saya hamil?

Tidak.
Kalau kita menggunakan anggapan bahwa kalau ayah membunuh binatang pada saat ibu hamil, anaknya akan terdiagnosa dengan Autisme, tentu para pemburu zaman dahulu (yang menggunakan senjata untuk berburu binatang untuk dimakan) semuanya memiliki anak dengan Autisme. Jadi, tidak ada hubungannya antara membunuh binatang pada saat istri hamil, dengan memiliki anak dengan Autisme.

Hingga saat ini, belum diketahui satu penyebab pasti dari Autisme. Para ahli sepakat bahwa kondisi ini terjadi akibat beberapa faktor sekaligus seperti faktor genetik, masalah ketika anak berada dalam kandungan, stress pada orang tua dan faktor lingkungan. Perbedaan-perbedaan dan faktor tersebut mempengaruhi perkembangan anatomi otak dan koordinasi motorik yang berbeda dari individu biasa, sehingga membuatnya mustahil untuk dapat ditularkan. Berada di dekat individu dengan Autisme tidak akan menularkan “infeksi Autisme” karena Autisme bukan virus atau penyakit, tapi merupakan label untuk perkembangan alami tubuh mereka.

Get involved and help create a society that works for autistic people


Donasi Sekarang Jadi Sukarelawan


Jadi Donatur