Mitos Seputar Autisme

Kesadaran dan pengetahuan mengenai Autisme memang berkembang dengan cukup pesat. Saat ini, kita sudah mengetahui lebih banyak mengenai Autisme, dibandingkan 20 tahun yang lalu, pada awal terbentuknya Yayasan MPATI.
Sayangnya, mitos seputar Autisme, yang saat ini telah kita ketahui kebenarannya, tetap hadir disekitar kita. Kurangnya pemahaman, serta banyaknya berita yang kurang tepat beredar mengenai Autisme, dapat membuat seorang anak terlambat mendapatkan diagnosa dan penanganan. Mitos yang beredar juga dapat membuat individu dengan Autisme dan keluarganya merasa terisolasi dan malu.
Dibawah ini, kami akan membahas beberapa mitos yang seringkali muncul. Mitos-mitos lainnya dapat anda lihat di buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme oleh Gayatri Pamoedji.


1 Mitos : Apakah Autisme itu turunan? Kebanyakan dari Ibu atau Ayah?
Faktor genetik memang disebut sebagai salah satu kemungkinan dari terjadinya Autisme, namun demikian, sampai sekarang belum ada penelitian yang menyebutkan apakah faktor genetik ini berasal dari ayah atau ibu. Keduanya memiliki peluang yang sama. Sebaiknya pun kita tidak mencurahkan perhatian terlalu banyak apakah Autisme itu dari ayah ataupun ibu. Yang jauh lebih penting justru adalah, bagaimana kita mengasuh, mendidik dan mendukung anak-anak dengan Autisme ini, agar mereka mendapatkan masa depan yang baik.
2Mitos : Apakah Autisme sama dengan retardasi mental (sekarang dikenal sebagai disabilitas intelektual/intellectual disability)?
Tidak. Dahulu para ahli belum dapat mengkategorikan Autisme, sehingga anak-anak yang tidak dapat berkomunikasi ini dianggap memiliki intelegensi rendah. Karena ketidak mampuan mereka dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pemikiran, seringkali nilai tes IQ mereka berada 70% dibawah dari yang seharusnya (yang mana kategori ini bisa termasuk sebagai retardasi mental/intellectual disability). Sekali lagi perlu diingat, bahwa Autisme digambarkan sebagai spektrum, sehingga rentang kemampuan intelegensi mereka juga akan berbeda pada setiap anak.
3Mitos : Apakah anak dengan Autisme sama dengan hiperaktif/ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder)?
Anak dengan Autisme seringkali menunjukkan hiperaktivitas, tetapi anak dengan hiperaktif atau ADHD belum tentu terdiagnosa dengan Autisme. Yang paling jelas adalah, pada anak dengan Autisme biasanya terdapat keterlambatan dalam kemampuan berinteraksi sosial, komunikasi dan sering melakukan aksi yang sama berulang-ulang. Sementara ADHD menunjukkan masalah mendalam (pervasive) pada kemampuan anak untuk duduk tenang, fokus, hingga menyelesaikan berbagai tugas sehari-hari maupun tugas akademis.
4Mitos : Autisme itu menular ya?
Autisme adalah gangguan perkembangan dan bukan penyakit. Berada di dekat individu dengan Autisme tidak akan menularkan “infeksi Autisme” karena Autisme bukan virus atau penyakit, tapi merupakan label untuk perkembangan alami tubuh mereka. Oleh karena itu, Autisme tidak menular seperti pilek ataupun Covid-19. "
5Mitos : Apakah Autisme bisa “sembuh”?
Autisme bukan “virus” atau “penyakit”, tapi merupakan gangguan perkembangan neurodevelopmental atau gangguan perkembangan pada syaraf, kurang tepat rasanya apabila kita ingin “menyembuhkan” mereka, kalau tidak ada yang bisa disembuhkan atau dihilangkan. Yang dapat dilakukan adalah memberikan intervensi dini untuk mengurangi intensitas gejala mereka dan membantu mereka untuk berfungsi mendekati usia kronologis (usia kalender) mereka. Fokus pada kelebihan mereka dan bantu mereka pada area-area yang bermasalah; berikan dukungan pada mereka untuk terus mengembangkan keterampilan mereka serta berikan strategi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial mereka. Dengan pendidikan dan dukungan yang tepat, individu dengan Autisme - dari masa kanak-kanak hingga masa dewasa - dapat menjalani hidup yang bahagia dan produktif.

Get involved and help create a society that works for autistic people


Donasi Sekarang Jadi Sukarelawan


Jadi Donatur