MPATI silaturahmi

Hallo Keluarga MPATI, bagaimana kabarnya setelah liburan panjang sehabis Lebaran dan Waisak kemarin?

Setelah 2 tahun lebih kita sulit untuk bertamu / silaturahmi ke keluarga maupun kerabat, rasanya momen Lebaran kemarin begitu membahagiakan ya? Rasa rindu yang terpendam lama akhirnya bisa terwujud untuk bertemu dengan keluarga besar.

Keluarga MPATI, saat mengajak Ananda kita khususnya dengan Autisme untuk bertemu dengan keluarga besar, apa saja sih yang biasanya dipersiapkan? Dan adakah momen dimana Ananda menolak bertemu dengan keramaian dan orang asing? 

Berikut ada tips menarik dari Ama Noersatryo, ibu dari dewasa Autisme berdasarkan pengalamannya dan juga Yayu Rahayu Nurohmah, S.Pd, mengenai adab silaturahmi dalam Islam serta penerapannya dalam bersosialisasi di Masyarakat.

Tips silaturahmi dari orang tua : 

  • Maklumi dan bersiap jika anak hanya mampu bertahan bertamu selama 10 menit saja, terutama bagi anak yang punya sensory disorder. 
  • Tetap dikenalkan secara bertahap untuk adaptasi dan sosialisasi, bertemu banyak orang.
  • Bisa gunakan bantuan gambar/foto untuk anak yang kesulitan secara verbal. Kenalkan konsep peristiwa apa, siapa, kapan, bagaimana, kenapa tentang peristiwa yang akan dihadapi.
  • Bisa dikenalkan melalui social story saat menunjukkan gambar / foto.
  • Jangan lupa puji anak jika berhasil melakukan hal yang diharapkan. Dan jelaskan dengan detail, sebab kenapa anak dipuji.

Adab (etika) silaturahmi untuk Anak Berkebutuhan Khusus :

  • Sebaiknya ada briefingnya dahulu ke anak dan orang yang akan dikunjungi.
  • Beritahu apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan. 
  • Mengucapkan salam.
  • Masuk dan duduk jika sudah dipersilahkan.
  • Ketika disuguhkan makanan diambil jika sudah dipersilahkan.
  • Untuk ABK jika anak belum mau masuk rumah, maka orang tuanya harus bersabar.
  • Jika ada tetangga yang belum kenal maka dikenalkan dengan kondisi ABK

Yayu selaku pendidik dan Ama selaku orang tua, juga menegaskan mengenai hal yang sama, kepada para orang tua dan Keluarga MPATI dimanapun berada. Janganlah karena kita takut, cemas bahwa anak kita akan tantrum dan rewel di tempat orang lain jadi tidak diajak. Dan semakin dibatasi lingkungannya bergaul.

“Anak itu bukanlah gangguan untuk orang tua bersilaturahmi,” Yayu menutup dengan semangat.

Esensi atau pentingnya silaturahmi :

  • Dalam Islam ditujukan untuk menyambung hubungan kekerabatan (yang sedarah) namun dalam budaya Indonesia diperluas lagi menjadi ke tetangga, kerabat dan teman lainnya. 
  • Untuk dapat mengetahui jalur nasab yang sedarah, saling mengenal saudaranya jika bertemu di tempat lain.
  • Untuk dapat saling tolong menolong dan berbagi kebahagiaan
  • Jika kita jarang berhubungan dengan tetangga atau kerabat, kita jadi mengetahui jika mereka sedang kesulitan atau membutuhkan pertolongan.

“Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari No. 5985)

***

Oleh : Dian Yulia Kartikasari.

Leave a Reply

Your email address will not be published.