MPATI sholat

Hukum shalat Ied adalah sunnah muakkad, lalu bagaimana keutamaan mengajarkan anak untuk sholat sunnah ?

Rasulullah Muhammad saw kala itu memerintahkan seluruh penduduk Madinah untuk keluar dalam melaksanakan sholat Ied, tanpa terkecuali bagi anak maupun perempuan. Semua dianjurkan berkumpul untuk mendengarkan khotbah dalam sholat Ied. Hal ini diutamakan dalam rangka melengkapi dan menyempurnakan ibadah umat Islam sebulan penuh setelah Ramadhan.

Dalam sesi Instagram Live MPATI, Yayu Rahayu Nurohmah, S.Pd yang juga Ketua Majelis Taklim An Nisa dan pengajar tahsin mengungkapkan sebaiknya anak mulai dikenalkan sholat sejak usia 7 tahun. Bertepatan dengan usia anak mumayyiz (usia sudah bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik). Dan pada usia 10 tahun (pra pubertas) sudah ada penegasan untuk beribadah sebelum anak masuk usia baligh.

Semakin dini semakin baik, hal ini juga dianjurkan oleh Yayu. Bahwa pengkondisian bisa dikenalkan sejak batita dan balita. Karena anak akan melihat bagaimana orang tua jika ada adzan segera bergegas, wudhu, menggelar sajadah, melakukan gerakan sholat. Anak akan meniru dari perbuatan yang dilakukan oleh sekitar.

Bagaimana dengan ABK yang belum mampu melaksanakan shalat ?

Pada dasarnya hukum Islam itu berlaku sama dan menyeluruh. Namun Allah SWT mengurangi beban sebagai wujud kasih sayang kepada hamba-hambaNya, dikenal Rukhsah. 

Contohnya : jika tidak bisa wudhu bisa tayamum. Jika tidak bisa sholat dalam keadaan biasa, karena sakit maka boleh dalam keadaan duduk atau tidur. 

“Jangankan pada ABK pada anak tipikal saja, pengkondisiannya beda-beda. Maka dikembalikan kepada orang tua, bagaimana mengenalkan dan mengajarkannya. Tidak bisa menyamaratakan kemampuan anak. Sebagai orangtua harus bisa membuat ibadah dibuat senyaman mungkin dan jangan sampai anak trauma dengan ibadah,” tutup Yayu dengan senyum.

Bagaimana tips mengajarkan anak dengan Autisme Shalat ?

Mengutip dari Instagram Live bersama Ama Noersatryo yang mengenalkan anaknya beribadah sejak masih tinggal di Qatar, dimana waktu puasa disana jauh lebih panjang durasinya dibandingkan di Indonesia. Dan kini anaknya mampu langsung menjalankan shalat tanpa diminta.

Berikut tipsnya :

  • Anak mengenal kemampuan imitasi beribadah dari orang tuanya
  • Orang tua menjadi role model, walaupun anak terkesan cuek namun anak tetap melihat dan mengamati. Contohkan dulu dengan perbuatan orang tua (misalnya shalat dan mengaji di depan anak)
  • Memasukkan kurikulum ibadah dalam proses pembelajaran (di sekolah atau tempat terapi)
  • Sebelum mengajarkan shalat Ied yang jamaahnya bisa ribuan, bisa dimulai dulu dengan mengajarkan shalat 5 waktu di rumah lalu shalat Jum’at yang rutin di masjid.
  • Ajarkan dulu menjadi makmum di rumah seperti apa. 
  • Ambil posisi di tempat yang paling gampang untuk orang tua pulang dari tempat ibadah jika anak tiba-tiba tidak nyaman atau mengajak pulang.
  • Mulailah dari sedini mungkin, bisa mulai dari usia SD.
  • Berikan reward (hadiah) jika berhasil melaksanakan ibadah.

Selengkapnya pada tayangan berikut : 

“Bagaimana orang tua mengkondisikan anak untuk dapat belajar beribadah secara bertahap dengan nyaman dan menyenangkan. Jika menemukan hal terasa sulit mari mengangkat tangan, menyerahkan pada Allah dan berdoalah. Agar mendapatkan pertolongan.”

(Yayu Rahayu Nurohmah, S.Pd)

 

Oleh : Dian Yulia Kartikasari.

Leave a Reply

Your email address will not be published.