{"id":11032,"date":"2025-10-16T10:31:31","date_gmt":"2025-10-16T03:31:31","guid":{"rendered":"https:\/\/autismindonesia.org\/?p=11032"},"modified":"2025-10-16T10:31:33","modified_gmt":"2025-10-16T03:31:33","slug":"5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/","title":{"rendered":"5 Cara Mencegah Perilaku Menyakiti Diri Pada Anak dengan Autisme"},"content":{"rendered":"\n<p>Tidak sedikit para Ibu yang bingung sekaligus takut melihat anaknya melukai diri sendiri, misalnya membenturkan kepala. Perilaku ini disebut <em>self-harm<\/em>, yang mana dalam sebuah riset, 30% anak dengan Autisme melakukan ini<a id=\"_ednref1\" href=\"#_edn1\">[1]<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Perilaku menyakiti diri bukan sekadar perilaku \u201cnakal\u201d atau \u201ctidak patuh\u201d. Anak menyakiti diri sendiri seringnya merupakan bentuk ekspresi tidak nyaman ataupun frustasi. Kalau dibiarkan, perilaku menyakiti diri dapat membahayakan anak. Karena itu, mari kita bahas lebih jauh tentang perilaku ini.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kenapa anak menyakiti diri?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Setiap tindakan anak dengan Autisme, termasuk menyakiti diri, memiliki alasan yang harus kita ketahui. Setidaknya, ada tiga alasan mengapa Ananda kita menyakiti diri.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Gangguan pemrosesan sensori<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Beberapa anak sangat peka terhadap suara, cahaya, sentuhan, atau bau tertentu. Saat rangsangan-rangsangan tersebut melebihi kapasitas penerimaan, anak akan menjadi tidak nyaman<a id=\"_ednref2\" href=\"#_edn2\">[2]<\/a>.\u00a0Namun, ada juga anak yang butuh stimulus sensori. Melukai diri menjadi cara baginya untuk merasakan sesuatu, entah sakit, perih, ataupun rasa lainnya<a id=\"_ednref3\" href=\"#_edn3\">[3]<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Kesulitan berkomunikasi<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Penyebab lainnya adalah karena sulitnya berkomunikasi. Bayangkan kita tidak bisa mengatakan \u201cAku lapar\u201d atau \u201cAku sakit.\u201d Sulitnya mengutarakan perasaan membuat anak mencari cara lain agar dapat mengkomunikasikan perasaannya. Memukul kepala atau menggigit tangan menjadi bentuk komunikasi nonverbal dari ketidakmampuan berbicara<a id=\"_ednref4\" href=\"#_edn4\">[4]<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Perubahan rutinitas<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Anak dengan Autisme perlu waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan rutinitas. Perubahan sekecil apapun dapat membuat anak cemas. Perubahan kecil seperti jadwal berbeda, suara keras, atau situasi baru bisa membuat anak bingung dan cemas<a id=\"_ednref5\" href=\"#_edn5\">[5]<\/a>. Ketika ia tidak mampu mengungkapkannya, menyakiti diri menjadi salah satu cara anak menenangkan diri dari stres yang ia tidak tahu bagaimana mengatasinya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah mitigasi perilaku menyakiti diri<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Perilaku menyakiti diri berbahaya bagi anak. Walaupun anak tidak memiliki pikiran untuk bunuh diri<a id=\"_ednref6\" href=\"#_edn6\">[6]<\/a>, tetapi perilaku menyakiti diri bisa mengakibatkan cedera. Tentu saja kita cemas jika anak berperilaku seperti itu. Karena itu, ada 5 langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risikosebelum perilaku menyakiti diri muncul.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Kenali pola dan pemicu<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Catatan perilaku anak dapat menjadi aset bagi orang tua dalam mitigasi perilaku menyakiti diri. Catatan orang tua menjadi <em>track record <\/em>tentang pola atau pemicu anak menyakiti diri, mulai dari waktu, tempat, maupun suasana<a id=\"_ednref7\" href=\"#_edn7\">[7]<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Ciptakan lingkungan aman<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Pastikan ruang anak bebas dari benda keras atau tajam. Jika anak sering membenturkan kepala, gunakan bantalan lembut atau pelindung. Langkah ini bukan solusi utama, tapi bisa mencegah cedera serius.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Ajarkan cara komunikasi alternatif<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Perilaku diri bagi anak adalah bentuk komunikasi. Karena merupakan bentuk komunikasi, berarti ada cara komunikasi lain yang dapat orang tua ajarkan. Gunakan gambar, kartu visual, atau aplikasi komunikasi (PECS, AAC) agar anak bisa mengekspresikan keinginan tanpa frustrasi<a id=\"_ednref8\" href=\"#_edn8\">[8]<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Bangun rutinitas yang konsisten<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Ayah dan Ibu perlu membangun rutinitas yang terstruktur dan diprediksi. Jadwal yang konsisten membantu mengurangi kecemasan dan perilaku ekstrem.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Latih regulasi diri<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Ajak anak belajar menenangkan diri dengan cara positif seperti menarik napas dalam, bermain dengan mainan sensorik, mendengarkan musik lembut, atau meremas bola stres.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Cara menangani perilaku menyakiti diri<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Bagaimana jika perilaku menyakiti diri sudah terjadi? Berikut ini beberapa langkah penanganan yang orang tua dapat lakukan<strong>.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Tetap tenang<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Orang tua perlu mengontrol kadar kepanikannya. Kalau orang tua panik atau marah, energinya menular dan membuat anak makin stres. Bernapaslah dalam-dalam dan gunakan suara lembut untuk menenangkan.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pastikan keamanan anak<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Keamanan anak dan orang sekitar menjadi yang utama. Jika ada benda berbahaya di sekitar, pindahkan anak ke ruangan yang tidak banyak benda tajam. Apabila diperlukan, orang tua dapat memeluk anak dari belakang dengan lembut. Jangan menahan terlalu kuat, cukup untuk memberikan rasa aman.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Periksa kemungkinan nyeri<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Kalau anak sudah menyakiti diri dalam beberapa waktu, periksa seluruh bagian badannya apakah ada tanda sakit di bagian tertentu. Jika perilaku menyakiti diri &nbsp;berulang di area sama, segera konsultasikan dengan dokter untuk menyingkirkan penyebab medis.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Gunakan komunikasi sederhana<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Tanyakan dengan kalimat pendek seperti \u201cSakit di sini?\u201d sambil menunjuk bagian tubuh. Gunakan gambar ekspresi \u201cmarah\u201d, \u201csakit\u201d, atau \u201ctakut\u201d untuk membantu anak menunjukkan perasaannya<a id=\"_ednref9\" href=\"#_edn9\">[9]<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Berikan alternatif<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Orang tua dapat menawarkan cara aman menyalurkan emosi. Misalnya, dengan menepuk bantal, mendengarkan musik, ataupun menggengam mainan sensorik<a id=\"_ednref10\" href=\"#_edn10\">[10]<\/a>; apapun itu asal tidak menyakiti anak. Dengan latihan, anak akan belajar bahwa ada cara lain untuk merasa lega.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Libatkan profesional<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Jika perilaku berlanjut, penting untuk berkonsultasi dengan terapis perilaku, psikolog anak, atau dokter spesialis tumbuh kembang. Pendampingan profesional membantu menemukan akar masalah dan membuat rencana intervensi yang sesuai. <\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Penutup<\/h3>\n\n\n\n<p>Perilaku menyakiti diri pada anak dengan Autisme bukan tanda \u201cnakal\u201d atau \u201ctidak bisa diatur\u201d, melainkan cara anak berkomunikasi ketika dunia terasa terlalu sulit atau membingungkan. Dengan memahami penyebabnya, melakukan pencegahan, dan menanganinya dengan empati, orang tua dapat membantu anak menemukan cara yang lebih aman dan sehat untuk menenangkan diri.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Daftar pustaka<\/h3>\n\n\n\n<p><a id=\"_edn1\" href=\"#_ednref1\">[1]<\/a> Hobbs, K. G. (2025, April 28). Autism, head banging, and other Self-Harming behavior. Autism Parenting Magazine. https:\/\/www.autismparentingmagazine.com\/autism-self-harm\/<\/p>\n\n\n\n<p><a id=\"_edn2\" href=\"#_ednref2\">[2]<\/a> Ibid<\/p>\n\n\n\n<p><a id=\"_edn3\" href=\"#_ednref3\">[3]<\/a> Ehmke, R. (2025, September 11). Help for Cutting and other Self-Injury. Child Mind Institute. https:\/\/childmind.org\/article\/what-drives-self-injury-and-how-to-treat-it\/<\/p>\n\n\n\n<p><a id=\"_edn4\" href=\"#_ednref4\">[4]<\/a> Nicole. (2025, September 17). Causes and Interventions for Self-Injury in Autism. Autism Research Institute. https:\/\/autism.org\/causes-and-interventions-for-self-injury-in-autism\/<\/p>\n\n\n\n<p><a id=\"_edn5\" href=\"#_ednref5\">[5]<\/a> Why change is hard for children with autism. (2025, July 21). https:\/\/www.handscenter.com\/why-change-is-hard-for-children-with-autism<\/p>\n\n\n\n<p><a id=\"_edn6\" href=\"#_ednref6\">[6]<\/a> When children and teens Self-Harm. (n.d.). HealthyChildren.org. https:\/\/www.healthychildren.org\/English\/health-issues\/conditions\/emotional-problems\/Pages\/when-children-and-teens-self-harm.aspx<\/p>\n\n\n\n<p><a id=\"_edn7\" href=\"#_ednref7\">[7]<\/a> Autism.org. (n.d.). https:\/\/www.autism.org.uk\/advice-and-guidance\/topics\/behaviour\/self-injurious-behaviour\/all-audiences<\/p>\n\n\n\n<p><a id=\"_edn8\" href=\"#_ednref8\">[8]<\/a> Ibid<\/p>\n\n\n\n<p><a id=\"_edn9\" href=\"#_ednref9\">[9]<\/a> Nicole. (2025, September 17). Causes and Interventions for Self-Injury in Autism. Autism Research Institute. https:\/\/autism.org\/causes-and-interventions-for-self-injury-in-autism\/<\/p>\n\n\n\n<p><a id=\"_edn10\" href=\"#_ednref10\">[10]<\/a> Gillette, H. (2024, April 1). What\u2019s the relationship between autism and Self-Harm? Healthline. https:\/\/www.healthline.com\/health\/autism\/autism-self-harm#showing-support<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anak telah ditangani orang tua setelah menyakiti diri<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11033,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"footnotes":""},"categories":[25,116],"tags":[248,249],"class_list":["post-11032","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","category-wawasan","tag-menyakiti-diri","tag-self-harm"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>5 Cara Mencegah Perilaku Menyakiti Diri Pada Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"5 Cara Mencegah Perilaku Menyakiti Diri Pada Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Anak telah ditangani orang tua setelah menyakiti diri\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Yayasan MPATI\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-16T03:31:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-16T03:31:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/MPATI-Digital-Image-8.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381\"},\"headline\":\"5 Cara Mencegah Perilaku Menyakiti Diri Pada Anak dengan Autisme\",\"datePublished\":\"2025-10-16T03:31:31+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-16T03:31:33+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/\"},\"wordCount\":883,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/MPATI-Digital-Image-8.webp\",\"keywords\":[\"menyakiti diri\",\"self-harm\"],\"articleSection\":[\"Pendidikan\",\"Wawasan\"],\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/\",\"name\":\"5 Cara Mencegah Perilaku Menyakiti Diri Pada Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/MPATI-Digital-Image-8.webp\",\"datePublished\":\"2025-10-16T03:31:31+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-16T03:31:33+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/MPATI-Digital-Image-8.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/MPATI-Digital-Image-8.webp\",\"width\":1920,\"height\":1080},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"5 Cara Mencegah Perilaku Menyakiti Diri Pada Anak dengan Autisme\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\",\"name\":\"Yayasan MPATI\",\"description\":\"Sebuah yayasan yang memiliki cita-cita untuk mengubah stigma autisme di masyarakat\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id-ID\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\",\"name\":\"Yayasan MPATI\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg\",\"width\":800,\"height\":309,\"caption\":\"Yayasan MPATI\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/autismeindonesia.org\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/id\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"5 Cara Mencegah Perilaku Menyakiti Diri Pada Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"5 Cara Mencegah Perilaku Menyakiti Diri Pada Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI","og_description":"Anak telah ditangani orang tua setelah menyakiti diri","og_url":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/","og_site_name":"Yayasan MPATI","article_published_time":"2025-10-16T03:31:31+00:00","article_modified_time":"2025-10-16T03:31:33+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/MPATI-Digital-Image-8.webp","type":"image\/webp"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/person\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381"},"headline":"5 Cara Mencegah Perilaku Menyakiti Diri Pada Anak dengan Autisme","datePublished":"2025-10-16T03:31:31+00:00","dateModified":"2025-10-16T03:31:33+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/"},"wordCount":883,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/MPATI-Digital-Image-8.webp","keywords":["menyakiti diri","self-harm"],"articleSection":["Pendidikan","Wawasan"],"inLanguage":"id-ID","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/","name":"5 Cara Mencegah Perilaku Menyakiti Diri Pada Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/MPATI-Digital-Image-8.webp","datePublished":"2025-10-16T03:31:31+00:00","dateModified":"2025-10-16T03:31:33+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id-ID","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id-ID","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/#primaryimage","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/MPATI-Digital-Image-8.webp","contentUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/MPATI-Digital-Image-8.webp","width":1920,"height":1080},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/5-cara-mencegah-perilaku-menyakiti-diri-pada-anak-dengan-autisme\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/autismindonesia.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"5 Cara Mencegah Perilaku Menyakiti Diri Pada Anak dengan Autisme"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#website","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/","name":"Yayasan MPATI","description":"Sebuah yayasan yang memiliki cita-cita untuk mengubah stigma autisme di masyarakat","publisher":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/autismindonesia.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id-ID"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization","name":"Yayasan MPATI","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id-ID","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg","contentUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg","width":800,"height":309,"caption":"Yayasan MPATI"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/person\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id-ID","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/autismeindonesia.org"],"url":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/author\/admin\/"}]}},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/MPATI-Digital-Image-8.webp","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11032","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11032"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11032\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11034,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11032\/revisions\/11034"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11033"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11032"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11032"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11032"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}