{"id":10923,"date":"2025-01-24T13:15:02","date_gmt":"2025-01-24T06:15:02","guid":{"rendered":"https:\/\/autismindonesia.org\/?p=10923"},"modified":"2025-01-24T13:15:02","modified_gmt":"2025-01-24T06:15:02","slug":"apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/","title":{"rendered":"Apakah Autisme Hanya Bisa Didiagnosis Pada Anak-anak?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Autisme, yang secara resmi dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autisme (GSA), adalah kondisi yang mempengaruhi cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Banyak orang beranggapan bahwa hanya anak-anak yang dapat didiagnosis dengan Autisme, sementara remaja dan orang dewasa sering kali tidak terdiagnosis. Selain itu, ada anggapan bahwa laki-laki lebih dominan dalam menyandang Autisme dibandingkan perempuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, apakah anggapan-anggapan ini benar? Artikel ini akan membahas dua anggapan tersebut.<\/span><\/p>\n<h4><b>Orang dewasa juga bisa terdiagnosis<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Riset menunjukkan rentang seseorang didiagnosis Autisme, yaitu antara <\/span><a href=\"https:\/\/journals.sagepub.com\/doi\/full\/10.1177\/1362361320971107\"><span style=\"font-weight: 400;\">2,5 tahun hingga 19,5 tahun<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Ini berarti bahwa individu remaja hingga dewasa juga memiliki potensi untuk didiagnosis. Pertanyaannya adalah, mengapa ciri-ciri Autisme baru terlihat saat remaja atau dewasa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diagnosis Autisme melibatkan evaluasi menyeluruh yang mencakup observasi perilaku, wawancara dengan orang tua atau pengasuh, serta penggunaan alat penilaian standar. Pada anak-anak, proses ini sering kali lebih cepat karena orang tua lebih peka terhadap perilaku yang tidak biasa. Sementara itu, pada remaja hingga orang dewasa, faktor seperti <\/span><a href=\"https:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/abs\/10.1002\/aur.3278\"><span style=\"font-weight: 400;\">akses terhadap layanan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><a href=\"https:\/\/journals.sagepub.com\/doi\/abs\/10.1177\/1362361320903128\"><span style=\"font-weight: 400;\">kepribadian dan adanya gangguan mental<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat mempengaruhi proses diagnosis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Riset menunjukkan bahwa hubungan antara ciri-ciri Autisme dan gangguan mental yang muncul bersamaan dapat memperumit pengukuran karakteristik psikososial individu yang didiagnosis di usia dewasa.<\/span><\/p>\n<h4><b>Mengapa diagnosis terkadang terlambat?<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa alasan mengapa remaja dan orang dewasa sering terlambat dalam mendapatkan diagnosis. Salah satu alasan utama adalah ketakutan <\/span><a href=\"https:\/\/link.springer.com\/article\/10.1007\/s10803-017-3168-3\"><span style=\"font-weight: 400;\">tidak dipercaya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> oleh penyedia layanan kesehatan. Selain itu, stigma sosial, biaya terapi, dan kesulitan dalam menjelaskan ciri-ciri Autisme juga menjadi penghalang signifikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan dalam kriteria diagnosis Autisme juga dapat menyebabkan seseorang tidak mendapatkan terapi yang dibutuhkan, terutama jika karakteristiknya tidak terlihat jelas. Gender juga berperan penting, di mana perempuan memiliki kemungkinan tiga kali lebih kecil untuk mendapatkan diagnosis Autisme, meskipun bukan berarti perempuan tidak dapat terdiagnosis.<\/span><\/p>\n<h4><b>Perbedaan gejala Autisme laki-laki dan perempuan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan Autisme seringkali menunjukkan gejala yang berbeda dan bisa lebih sulit untuk didiagnosis. Ada <\/span><a href=\"https:\/\/link.springer.com\/article\/10.1007\/s10803-017-3413-9\"><span style=\"font-weight: 400;\">lima alasan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> kenapa karakteristik Autisme luput dari perempuan:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan dalam cara mendiagnosis Autisme, yang kini mencakup tanda-tanda yang lebih halus.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengujian Autisme yang cenderung bias terhadap pola perilaku laki-laki.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan ekspresi ciri Autisme antara jenis kelamin, seperti keterampilan bahasa.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tekanan sosial dan ekspektasi gender yang membuat perilaku anak perempuan tampak lebih &#8220;normal&#8221;.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kemampuan anak perempuan dalam menyembunyikan ciri Autisme mereka.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perempuan seringkali menunjukkan karakteristik Autisme yang lebih halus. Mereka mungkin lebih baik dalam meniru perilaku sosial dan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial mereka. Hal ini bisa menyebabkan mereka tidak terdiagnosis sampai remaja, ketika tantangan sosial menjadi lebih kompleks dan sulit untuk diatasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, laki-laki cenderung menunjukkan karakteristik Autisme yang lebih jelas, seperti kesulitan dalam interaksi sosial, perilaku repetitif, dan ketertarikan yang sangat spesifik pada topik tertentu. Mereka mungkin lebih cenderung untuk terlibat dalam perilaku yang mencolok dan sulit untuk diabaikan, yang membuat diagnosis lebih mudah.<\/span><\/p>\n<h4><b>Strategi untuk menghadapi tantangan diagnosis<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tantangan diagnosis yang telah dijelaskan menjadi refleksi bahwa baik anak-anak hingga dewasa dapat menyandang Autisme. Mereka memiliki karakteristik yang beragam, sehingga membutuhkan kepekaan dan empati banyak pihak untuk menyadari kondisi Autisme.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan dan intervensi yang holistik dapat membantu memastikan bahwa semua individu mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan. Ini termasuk pelatihan untuk mengenali gejala yang mungkin tidak konvensional dan menyediakan lingkungan yang mendukung bagi individu dengan Autisme.<\/span><\/p>\n<h4><b>Kesimpulan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Autisme adalah kondisi yang kompleks dan beragam, yang dapat didiagnosis pada segala usia. Asumsi bahwa Autisme hanya dapat didiagnosis pada anak-anak perlu diluruskan, karena banyak orang dewasa yang juga berpotensi menyandang Autisme. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa ada perbedaan dalam cara dan karakteristik Autisme yang muncul, tergantung dari gender, kondisi sosial ekonomi dan usia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita terus belajar dan berbagi informasi untuk membantu mereka yang membutuhkan dukungan!<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Autisme, yang secara resmi dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autisme (GSA), adalah kondisi yang mempengaruhi cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Banyak orang beranggapan bahwa hanya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10924,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_post_transparent":"default","_kad_post_title":"default","_kad_post_layout":"default","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"default","_kad_post_vertical_padding":"default","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"footnotes":""},"categories":[8,116],"tags":[200,201,199,202],"class_list":["post-10923","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-diagnosa","category-wawasan","tag-ciri-autisme-laki-laki","tag-ciri-autisme-perempuan","tag-diagnosis","tag-gangguan-spektrum-autisme"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Apakah Autisme Hanya Bisa Didiagnosis Pada Anak-anak? - Yayasan MPATI<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Autisme, yang secara resmi dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autisme (GSA), adalah kondisi yang mempengaruhi cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Banyak orang beranggapan bahwa hanya anak-anak yang dapat didiagnosis dengan Autisme, sementara remaja dan orang dewasa sering kali tidak terdiagnosis. Selain itu, ada anggapan bahwa laki-laki lebih dominan dalam menyandang Autisme dibandingkan perempuan.\u00a0\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Apakah Autisme Hanya Bisa Didiagnosis Pada Anak-anak? - Yayasan MPATI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Autisme, yang secara resmi dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autisme (GSA), adalah kondisi yang mempengaruhi cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Banyak orang beranggapan bahwa hanya anak-anak yang dapat didiagnosis dengan Autisme, sementara remaja dan orang dewasa sering kali tidak terdiagnosis. Selain itu, ada anggapan bahwa laki-laki lebih dominan dalam menyandang Autisme dibandingkan perempuan.\u00a0\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Yayasan MPATI\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-01-24T06:15:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/MPATI-Digital-Image-1.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381\"},\"headline\":\"Apakah Autisme Hanya Bisa Didiagnosis Pada Anak-anak?\",\"datePublished\":\"2025-01-24T06:15:02+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/\"},\"wordCount\":596,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/01\\\/MPATI-Digital-Image-1.webp\",\"keywords\":[\"ciri autisme laki-laki\",\"ciri autisme perempuan\",\"diagnosis\",\"gangguan spektrum autisme\"],\"articleSection\":[\"Diagnosa\",\"Wawasan\"],\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/\",\"name\":\"Apakah Autisme Hanya Bisa Didiagnosis Pada Anak-anak? - Yayasan MPATI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/01\\\/MPATI-Digital-Image-1.webp\",\"datePublished\":\"2025-01-24T06:15:02+00:00\",\"description\":\"Autisme, yang secara resmi dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autisme (GSA), adalah kondisi yang mempengaruhi cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Banyak orang beranggapan bahwa hanya anak-anak yang dapat didiagnosis dengan Autisme, sementara remaja dan orang dewasa sering kali tidak terdiagnosis. Selain itu, ada anggapan bahwa laki-laki lebih dominan dalam menyandang Autisme dibandingkan perempuan.\u00a0\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/01\\\/MPATI-Digital-Image-1.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/01\\\/MPATI-Digital-Image-1.webp\",\"width\":1920,\"height\":1080},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Apakah Autisme Hanya Bisa Didiagnosis Pada Anak-anak?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\",\"name\":\"Yayasan MPATI\",\"description\":\"Sebuah yayasan yang memiliki cita-cita untuk mengubah stigma autisme di masyarakat\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id-ID\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\",\"name\":\"Yayasan MPATI\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg\",\"width\":800,\"height\":309,\"caption\":\"Yayasan MPATI\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/autismeindonesia.org\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/id\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Apakah Autisme Hanya Bisa Didiagnosis Pada Anak-anak? - Yayasan MPATI","description":"Autisme, yang secara resmi dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autisme (GSA), adalah kondisi yang mempengaruhi cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Banyak orang beranggapan bahwa hanya anak-anak yang dapat didiagnosis dengan Autisme, sementara remaja dan orang dewasa sering kali tidak terdiagnosis. Selain itu, ada anggapan bahwa laki-laki lebih dominan dalam menyandang Autisme dibandingkan perempuan.\u00a0","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Apakah Autisme Hanya Bisa Didiagnosis Pada Anak-anak? - Yayasan MPATI","og_description":"Autisme, yang secara resmi dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autisme (GSA), adalah kondisi yang mempengaruhi cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Banyak orang beranggapan bahwa hanya anak-anak yang dapat didiagnosis dengan Autisme, sementara remaja dan orang dewasa sering kali tidak terdiagnosis. Selain itu, ada anggapan bahwa laki-laki lebih dominan dalam menyandang Autisme dibandingkan perempuan.\u00a0","og_url":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/","og_site_name":"Yayasan MPATI","article_published_time":"2025-01-24T06:15:02+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/MPATI-Digital-Image-1.webp","type":"image\/webp"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/person\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381"},"headline":"Apakah Autisme Hanya Bisa Didiagnosis Pada Anak-anak?","datePublished":"2025-01-24T06:15:02+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/"},"wordCount":596,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/MPATI-Digital-Image-1.webp","keywords":["ciri autisme laki-laki","ciri autisme perempuan","diagnosis","gangguan spektrum autisme"],"articleSection":["Diagnosa","Wawasan"],"inLanguage":"id-ID","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/","name":"Apakah Autisme Hanya Bisa Didiagnosis Pada Anak-anak? - Yayasan MPATI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/MPATI-Digital-Image-1.webp","datePublished":"2025-01-24T06:15:02+00:00","description":"Autisme, yang secara resmi dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autisme (GSA), adalah kondisi yang mempengaruhi cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Banyak orang beranggapan bahwa hanya anak-anak yang dapat didiagnosis dengan Autisme, sementara remaja dan orang dewasa sering kali tidak terdiagnosis. Selain itu, ada anggapan bahwa laki-laki lebih dominan dalam menyandang Autisme dibandingkan perempuan.\u00a0","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id-ID","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id-ID","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/#primaryimage","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/MPATI-Digital-Image-1.webp","contentUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/MPATI-Digital-Image-1.webp","width":1920,"height":1080},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/apakah-autisme-hanya-bisa-didiagnosis-pada-anak-anak\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/autismindonesia.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Apakah Autisme Hanya Bisa Didiagnosis Pada Anak-anak?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#website","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/","name":"Yayasan MPATI","description":"Sebuah yayasan yang memiliki cita-cita untuk mengubah stigma autisme di masyarakat","publisher":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/autismindonesia.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id-ID"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization","name":"Yayasan MPATI","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id-ID","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg","contentUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg","width":800,"height":309,"caption":"Yayasan MPATI"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/person\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id-ID","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/autismeindonesia.org"],"url":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/author\/admin\/"}]}},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/MPATI-Digital-Image-1.webp","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10923"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10923\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10925,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10923\/revisions\/10925"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10924"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}