{"id":10784,"date":"2024-05-13T17:01:33","date_gmt":"2024-05-13T10:01:33","guid":{"rendered":"https:\/\/autismindonesia.org\/?p=10784"},"modified":"2024-08-22T10:38:36","modified_gmt":"2024-08-22T03:38:36","slug":"autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/","title":{"rendered":"Autisme: 7 Ciri dan 6 Terapi yang Bisa Dilakukan Orang tua"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Autisme merupakan gangguan perkembangan anak yang berdampak pada aspek komunikasi, perilaku, dan kemampuan sosial anak. Pada umumnya, ciri-ciri Autisme dapat dilihat pada usia sebelum tiga tahun. <\/span><\/p>\n<h4>7 Ciri-ciri Autisme<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada tujuh<a href=\"https:\/\/sains.kompas.com\/read\/2019\/08\/24\/101604123\/7-ciri-autisme-seperti-yang-diidap-anak-dian-sastro?page=all\"> ciri Autisme<\/a> yang mesti kita ketahui bersama, yaitu:<\/span><b><\/b><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Cenderung tidak punya ketertarikan untuk main bersama<\/b><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara umum, anak suka bermain bersama teman-temannya. Itu adalah sikap yang lumrah kita lihat pada anak-anak. Akan tetapi, anak dengan Autisme justru tidak tertarik untuk bermain bersama anak lainnya. Anak dengan Autisme lebih suka menyendiri, meskipun ada banyak orang di sekelilingnya. Anak dengan Autisme sibuk dengan dunianya sendiri.<\/span><b><\/b><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Cenderung tidak menunjuk hal yang mereka sukai<\/b><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika anak tertarik pada sesuatu, anak akan menunjuk dengan jarinya. Namun, berbeda dengan anak dengan Autisme; mereka tidak menunjuk, walaupun mungkin anak dengan Autisme menyukai sesuatu.<\/span><b><\/b><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Cenderung tidak meniru ucapan dan gerakan<\/b><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, anak-anak belajar sesuatu dengan menirukan ucapan atau gerakan orang-orang di sekitarnya. Anak dengan Autisme tidak melakukan hal itu. Mereka lebih sibuk dengan dunianya sendiri.\u00a0<\/span><b><\/b><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Cenderung kurang mampu bermain pura-pura<\/b><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seharusnya, anak suka bermain pura-pura: pura-pura menelepon, pura-pura jadi dokter, dan lain sebagainya. Tetapi, anak dengan Autisme tidak melakukan itu. Anak dengan Autisme tidak tertarik bermain pura-pura.<\/span><b><\/b><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Cenderung tidak bereaksi saat dipanggil<\/b><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak dengan Autisme cenderung cuek saat ada orang memanggilnya. Anak dengan Autisme bahkan tidak membalas sahutan ataupun sekadar menganggukkan kepala.\u00a0<\/span><b><\/b><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Cenderung tidak melakukan kontak mata<\/b><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada anak yang tidak menatap mata lawan bicaranya antara 1\u20132 detik, anak tersebut memiliki ciri Autisme. Hal ini karena, pada umumnya, anak akan menatap mata lawan bicara, walaupun hanya sebentar.<\/span><b><\/b><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Cenderung tidak melihat apa yang ditunjuk<\/b><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak dengan Autisme juga tidak melihat apa yang ditunjuk orang lain karena anak sibuk dengan dunianya sendiri. Ini berbeda dengan anak tipikal yang secara refleks akan melihat apa yang ditunjuk orang lain.<\/span><\/p>\n<h4>Terapi yang Bisa Dilakukan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila Ananda memiliki dua dari tujuh karakteristik, Keluarga MPATI harus konsultasi kepada ahli supaya mendapatkan diagnosa yang lebih jelas.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika anak sudah mendapatkan diagnosa yang jelas, Anak harus melakukan berbagai terapi agar bisa berkembang dengan maksimal. Setiap anak punya kebutuhan terapi yang berbeda-beda. Secara umum, ada banyak terapi yang bisa dilakukan oleh Keluarga MPATI, yaitu:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Terapi perilaku<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terapi perilaku adalah pendekatan terapi yang terfokus <a href=\"https:\/\/www.autismspeaks.org\/applied-behavior-analysis\">pada perubahan perilaku<\/a>. Terapi ini berupaya mengajarkan anak keterampilan baru dan memperkuat perilaku positif anak. Selain itu, tujuan terapi perilaku lainnya adalah mengurangi perilaku yang menyakiti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara kerja terapi perilaku adalah dengan mengamati perilaku anak yang ingin ditingkatkan, misalnya keterampilan berbicara ataupun keterampilan lainnya. Terapis akan melakukan analisis soal penyebab yang mempengaruhi perilaku anak tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu prinsip utama dalam terapi perilaku adalah menerapkan prinsip imbalan dan hukuman. Imbalan di sini tidak harus berupa hadiah. Bisa juga berupa pujian atau membolehkan anak melakukan aktivitas tertentu. Sedangkan hukuman tidak memberatkan anak, selama prinsipnya mendidik.\u00a0<\/span><b><\/b><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Terapi okupasi<\/b><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/www.verywellhealth.com\/occupational-therapy-for-autism-4783594\">Terapi okupasi<\/a> berperan untuk membantu anak meningkatkan kemampuan motorik kasar dan halus. Supaya mereka bisa melakukan aktivitas sehari-hari, seperti makan, minum, berpakaian, dan lain-lain. Intinya, terapi okupasi membantu anak agar bisa berfungsi dalam kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa pendekatan dalam terapi okupasi, misalnya dengan terapi bermain, terapi sensori integrasi, dan dukungan visual. Seperti pada terapi umumnya, sebelum melakukan terapi okupasi, terapis akan menilai secara detail kemampuan anak. Setelah dinilai, terapis akan membuat rencana terapi sesuai kondisi anak.\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Terapi wicara<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkadang, anak dengan Autisme mengalami penurunan dalam kemampuan bicara, atau kemampuan bicaranya kurang. Karena itu, anak membutuhkan terapi untuk meningkatkan kemampuan komunikasinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/www.healthline.com\/health\/autism\/speech-therapy-for-autism\">Terapi wicara<\/a> menyelesaikan tantangan seperti kemampuan komunikasi, kemampuan identifikasi komunikasi nonverbal, kemampuan bertanya dan menjawab, dan lain sebagainya. Singkatnya, ketika konsisten menerapkan program terapi wicara di rumah dan di tempat terapi, kemampuan bicara anak bisa meningkat.<\/span><b><\/b><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Terapi bermain<\/b><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terapi bermain adalah pendekatan terapeutik yang <a href=\"https:\/\/www.totalcareaba.com\/autism\/play-therapy\">menggunakan bermain<\/a> sebagai alat utama untuk membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial, emosional, kognitif, dan motorik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada empat manfaat melakukan terapi bermain:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Terapi bermain berupaya membuka ruang kepada anak agar bisa mengekspresikan dirinya nyaman.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Terapi bermain membantu anak bermain sesuai minatnya.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Terapi bermain bisa membuat anak merasakan cara berinteraksi yang beragam.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Terapi bermain dapat membantu anak mengekspresikan perasaannya, lingkungannya, dan hubungannya dengan keluarganya.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Terapi sosial<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terapi ini dirancang khusus bagi anak dengan Autisme agar bisa meningkatkan <a href=\"https:\/\/www.abtaba.com\/blog\/social-skills-training\">keterampilan sosialnya<\/a>, sehingga bisa berinteraksi secara efektif. Tujuan paling utama dari terapi ini agar anak dengan Autisme punya kemampuan berkomunikasi secara verbal maupun nonverbal.\u00a0<\/span><b><\/b><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Terapi Musik\u00a0<\/b><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musik menjadi <a href=\"https:\/\/www.autism.org.uk\/advice-and-guidance\/professional-practice\/music-therapy\">salah satu terapi<\/a> yang baik bagi anak dengan Autisme. Terlebih, anak dengan Autisme lebih efektif dalam mengekspresikan diri melalui musik. Terapi ini dapat meningkatkan kreativitas anak serta mengatasi kesulitan anak dalam berkomunikasi.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terapi musik menggunakan berbagai elemen musik seperti ritme, melodi, harmoni, dan lain sebagainya. Intervensi dalam musik meliputi mendengarkan musik, penyanyi, memainkan alat musik, membuat musik, dan berdansa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terapi-terapi ini bisa dikombinasikan berdasarkan kebutuhan anak. Seringkali, kombinasi dari berbagai jenis terapi bisa memberikan pendekatan terbaik untuk memaksimalkan perkembangan anak dan mencapai potensi sejati mereka. Penting untuk bekerja sama dengan tim terapis yang berpengalaman dan merencanakan program terapi yang sesuai dengan kebutuhan individu anak.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Autisme merupakan gangguan perkembangan anak yang berdampak pada aspek komunikasi, perilaku, dan kemampuan sosial anak. Pada umumnya, ciri-ciri Autisme dapat dilihat pada usia sebelum tiga&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10786,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_post_transparent":"default","_kad_post_title":"default","_kad_post_layout":"default","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"default","_kad_post_vertical_padding":"default","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"footnotes":""},"categories":[8,116],"tags":[166,165],"class_list":["post-10784","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-diagnosa","category-wawasan","tag-7-ciri-autisme","tag-terapi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Autisme: 7 Ciri dan 6 Terapi yang Bisa Dilakukan Orang tua - Yayasan MPATI<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Autisme merupakan gangguan perkembangan anak yang berdampak pada aspek komunikasi, perilaku, dan sosial anak. Ciri-ciri Autisme dapat dilihat pada usia sebelum tiga tahun.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Autisme: 7 Ciri dan 6 Terapi yang Bisa Dilakukan Orang tua - Yayasan MPATI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Autisme merupakan gangguan perkembangan anak yang berdampak pada aspek komunikasi, perilaku, dan sosial anak. Ciri-ciri Autisme dapat dilihat pada usia sebelum tiga tahun.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Yayasan MPATI\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-05-13T10:01:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-08-22T03:38:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/2020-2-19-k-paynter-SPIN-autism-support.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381\"},\"headline\":\"Autisme: 7 Ciri dan 6 Terapi yang Bisa Dilakukan Orang tua\",\"datePublished\":\"2024-05-13T10:01:33+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-22T03:38:36+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/\"},\"wordCount\":809,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/2020-2-19-k-paynter-SPIN-autism-support.webp\",\"keywords\":[\"7 ciri Autisme\",\"terapi\"],\"articleSection\":[\"Diagnosa\",\"Wawasan\"],\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/\",\"name\":\"Autisme: 7 Ciri dan 6 Terapi yang Bisa Dilakukan Orang tua - Yayasan MPATI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/2020-2-19-k-paynter-SPIN-autism-support.webp\",\"datePublished\":\"2024-05-13T10:01:33+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-22T03:38:36+00:00\",\"description\":\"Autisme merupakan gangguan perkembangan anak yang berdampak pada aspek komunikasi, perilaku, dan sosial anak. Ciri-ciri Autisme dapat dilihat pada usia sebelum tiga tahun.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/2020-2-19-k-paynter-SPIN-autism-support.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/2020-2-19-k-paynter-SPIN-autism-support.webp\",\"width\":2300,\"height\":1533,\"caption\":\"Anak dengan Autisme\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Autisme: 7 Ciri dan 6 Terapi yang Bisa Dilakukan Orang tua\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\",\"name\":\"Yayasan MPATI\",\"description\":\"Sebuah yayasan yang memiliki cita-cita untuk mengubah stigma autisme di masyarakat\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id-ID\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\",\"name\":\"Yayasan MPATI\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg\",\"width\":800,\"height\":309,\"caption\":\"Yayasan MPATI\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/autismeindonesia.org\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/id\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Autisme: 7 Ciri dan 6 Terapi yang Bisa Dilakukan Orang tua - Yayasan MPATI","description":"Autisme merupakan gangguan perkembangan anak yang berdampak pada aspek komunikasi, perilaku, dan sosial anak. Ciri-ciri Autisme dapat dilihat pada usia sebelum tiga tahun.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Autisme: 7 Ciri dan 6 Terapi yang Bisa Dilakukan Orang tua - Yayasan MPATI","og_description":"Autisme merupakan gangguan perkembangan anak yang berdampak pada aspek komunikasi, perilaku, dan sosial anak. Ciri-ciri Autisme dapat dilihat pada usia sebelum tiga tahun.","og_url":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/","og_site_name":"Yayasan MPATI","article_published_time":"2024-05-13T10:01:33+00:00","article_modified_time":"2024-08-22T03:38:36+00:00","og_image":[{"width":2300,"height":1533,"url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/2020-2-19-k-paynter-SPIN-autism-support.webp","type":"image\/webp"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/person\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381"},"headline":"Autisme: 7 Ciri dan 6 Terapi yang Bisa Dilakukan Orang tua","datePublished":"2024-05-13T10:01:33+00:00","dateModified":"2024-08-22T03:38:36+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/"},"wordCount":809,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/2020-2-19-k-paynter-SPIN-autism-support.webp","keywords":["7 ciri Autisme","terapi"],"articleSection":["Diagnosa","Wawasan"],"inLanguage":"id-ID","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/","name":"Autisme: 7 Ciri dan 6 Terapi yang Bisa Dilakukan Orang tua - Yayasan MPATI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/2020-2-19-k-paynter-SPIN-autism-support.webp","datePublished":"2024-05-13T10:01:33+00:00","dateModified":"2024-08-22T03:38:36+00:00","description":"Autisme merupakan gangguan perkembangan anak yang berdampak pada aspek komunikasi, perilaku, dan sosial anak. Ciri-ciri Autisme dapat dilihat pada usia sebelum tiga tahun.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id-ID","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id-ID","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/#primaryimage","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/2020-2-19-k-paynter-SPIN-autism-support.webp","contentUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/2020-2-19-k-paynter-SPIN-autism-support.webp","width":2300,"height":1533,"caption":"Anak dengan Autisme"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/autisme-7-ciri-dan-6-terapi-yang-bisa-dilakukan-orang-tua\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/autismindonesia.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Autisme: 7 Ciri dan 6 Terapi yang Bisa Dilakukan Orang tua"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#website","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/","name":"Yayasan MPATI","description":"Sebuah yayasan yang memiliki cita-cita untuk mengubah stigma autisme di masyarakat","publisher":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/autismindonesia.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id-ID"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization","name":"Yayasan MPATI","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id-ID","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg","contentUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg","width":800,"height":309,"caption":"Yayasan MPATI"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/person\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id-ID","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/autismeindonesia.org"],"url":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/author\/admin\/"}]}},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/2020-2-19-k-paynter-SPIN-autism-support.webp","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10784","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10784"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10784\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10863,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10784\/revisions\/10863"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10786"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10784"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10784"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10784"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}