• 0813-8074-1898
  • yayasanmpati@gmail.com
  • Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Dukungan
Perjuangan Membesarkan Dua Anak dengan Autisme

Perjuangan Membesarkan Dua Anak dengan Autisme

Nama saya Ina, ibu dari dua anak laki-laki dengan diagnosa Autisme. Anak pertama saya berusia 11 tahun dan anak kedua berusia 7 tahun.

Menjadi Ibu dengan dua anak dengan Autisme, bukanlah hal yang mudah. Hidup saya bagai rollercoaster yang naik turun tanpa henti. Beraneka macam emosi hinggap menemani saya di kehidupan sehari-hari.

Terbelenggu Stigma

Hidup di negara yang sebagian masyarakatnya masih minim dengan wawasan seputar anak berkebutuhan khusus, termasuk ASD membuat perasaan saya kerap kali bergejolak. Dimulai pada masa awal tumbuh kembang anak pertama yang tidak seperti kebanyakan anak lainnya: hiperaktif, tidak fokus, belum bicara di usia 3 tahun lebih, tidak memiliki kontak mata yang bagus, tidak respon jika dipanggil nama atau diajak berkomunikasi, bahkan tidak mengenal rasa sakit saat kepala nya yang bocor dijahit di klinik dekat rumah.

Tak sedikit orang menganggap bahwa anak saya anak nakal yang tidak bisa diam. Menjadi tontonan orang-orang di tempat umum juga hal lumrah bagi saya.

Setiap kali bepergian ke luar rumah menggunakan transportasi umum, anak kedua saya akan menjerit histeris, tantrum bahkan meltdown karena ia tidak suka menunggu dan ingin cepat-cepat berada di dalam bus atau kereta. Tak jarang ia melemparkan barang-barang yang sedang dipakainya seperti sendal atau sepatu bahkan terkadang tangan saya terluka karena gigitan atau cakarannya.

Banyak Pembelajaran

Berbagai penolakan saat mendaftarkan mereka menjadi siswa di beberapa sekolah pun sudah kami alami. Rasanya? Tak perlu ditanyakan lagi bagaimana hati dan pikiran ini menjadi bergemuruh, perang antara perasaan dan logika seringkali terjadi. Berujung menetesnya air mata tanpa sadar, pembuktian bahwa hal itu melebihi kata-kata yang bisa terucap.

Lantas, apakah saya marah, kecewa dan menyesal memiliki anak-anak spesial ini? Dari lubuk hati yang paling dalam, jawaban saya adalah: TIDAK SAMA SEKALI. Saya sadar, di luar sana, ada banyak pasangan suami-istri yang menunggu kehadiran buah hatinya. Saya bersyukur dianugerahi anak-anak yang memiliki wajah dan perilaku yang jujur. Kehadiran mereka mewarnai dunia ini, menutupi kecurangan dunia dengan keluguan mereka tanpa berpura-pura.

Dari mereka saya belajar untuk bersabar, bersikap jujur, menerima segala hal apa adanya, tidak mendendam, dan belajar berbahagia meski dengan hal-hal kecil. Mereka guru saya, yang mengajarkan berbagai ilmu agar saya bisa lebih bijak menjalani kehidupan ini. Sampai akhirnya saya sadar bahwa mereka adalah makhluk Allah yang sempurna karena ciptaan Allah tidak pernah gagal, namun sebagian dari manusialah yang memarjinalkan kondisi mereka hingga dianggap tidak sempurna.

Menerima Sepenuhnya

Jika saja kita menyadari bagaimana jika berada di posisi mereka, tentunya kita akan paham dunia mereka. Mereka tidak perlu sama dengan kebanyakan orang, terima saja seperti halnya kita ingin diterima oleh manusia lainnya tanpa penolakan, dengan hak dan kewajiban yang sama, maka dunia akan lebih cantik dengan perbedaan warna yang mereka kontribusi kan.

Silakan terima perasaan marah, kesal, kecewa, sedih, dan lain sebagainya karena mereka berbeda. Namun jangan berlarut-larut karena kesedihan yang terus menerus tak akan mengubah kondisi yang ada.

Sadarilah bahwa anak-anak spesial ini tidak bersalah dan mereka tidak memiliki kapasitas untuk disudutkan oleh lingkungannya. Meyakini diri bahwa setiap hari adalah momen berharga saya bersama mereka, menjadikan diri saya lebih mampu meregulasi emosi untuk menjaga kewarasan dan menikmati indahnya hidup.

4

4 thoughts on “Perjuangan Membesarkan Dua Anak dengan Autisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *