• 0813-8074-1898
  • yayasanmpati@gmail.com
  • Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Diagnosa
Pengertian Dasar Mengenai Autisme

Pengertian Dasar Mengenai Autisme

Daftar Isi

Pengertian Autisme

Autisme adalah gangguan perkembangan otak yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, Autisme juga dapat menyebabkan gangguan perilaku.

Autisme saat ini disebut sebagai gangguan spektrum Autisme (GSA) atau dalam bahasa Inggrisnya Autism Spectrum Disorder (ASD). Sebutan tersebut menggambarkan gejala dan tingkat keparahan yang bervariasi pada setiap penyandangnya. Hal-hal yang termasuk ASD adalah Asperger, gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS), gangguan autistik dan childhood disintegrative disorder.

Berdasarkan data dari WHO, Autisme dapat terjadi pada 1 dari 160 anak di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, belum ada data yang menunjukkan secara pasti jumlah individu dengan Autisme.

Sangatlah penting untuk mewaspadai ciri-ciri Autisme sedini mungkin, karena jika memang Autisme tidak berhasil dalam penanganannya, masih ada beberapa metode untuk menangani Autisme supaya penyandangnya lebih bisa menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ciri-ciri Autisme

Ciri-ciri Autisme pada setiap orang berbeda-beda. Beberapa menunjukkan ciri-ciri yang relatif ringan, seperti aktivitas sehari-hari masih dapat dilakukan dengan sedikit bantuan. Tetapi pada individu yang didiagnosa dengan level sedang atau berat, mereka akan membutuhkan lebih banyak bantuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Ciri-ciri utama yang ditunjukkan oleh anak dengan Autisme adalah terkait dengan komunikasi dan interaksi dari penyandangnya. Sekitar 80-90% individu dengan Autisme mulai menunjukkan gejala pada usia 2 tahun. Pada beberapa kasus, Autisme juga sudah dapat terdiagnosa sejak usia 1 tahun, namun cenderung jarang terjadi. Pada beberapa kasus yang cenderung ringan, diagnosa Autisme bisa saja baru terdeteksi setelah individu tersebut dewasa. Hal ini biasanya terlihat dari kurangnya kemampuan individu dalam menjalin relasi sosial yang semakin kompleks, saat dewasa, yang cenderung tidak mengganggu sebelumnya.

Beberapa gejalanya seperti berikut:

1. Ciri-ciri terkait komunikasi dan interaksi

Pada beberapa kasus, anak dengan Autisme sudah dapat mengeluarkan kata-kata  namun kemampuan tersebut berkurang dan anak menunjukkan hambatan dalam berkomunikasi. 40% anak dengan Autisme tidak dapat melakukan komunikasi secara verbal, namun dapat diajarkan untuk berkomunikasi dengan alat bantu. Gejala tersebut seperti:

  • Tidak merespons saat nama dipanggil
  • Tidak mengungkapkan emosi
  • Tidak peka terhadap perasaan orang lain.
  • Sering mengulang kata, tapi tidak paham penggunaannya.
  • Lebih senang menyendiri.

2. Ciri-ciri pada pola perilaku

  • Sensitif pada cahaya, sentuhan atau suara.
  • Tidak merespons terhadap rasa sakit.
  • Bisa marah jika ada perubahan dari rutinitas tertentunya.
  • Gerakan repetitif, seperti mengibaskan tangan atau menggoyangkan tubuh ke depan atau belakang.

Selain ciri-ciri diatas, pada beberapa kasus individu dengan Autisme juga terdiagnosa dengan gangguan komorbid seperti ADHD, epilepsi, sindrom Tourette, obsesif kompulsif disorder dan depresi. Kami percaya bahwa intervensi dini merupakan kunci dari pertumbuhan anak yang optimal. Oleh karena itu, sangat penting pada orang tua untuk mewaspadai ciri-ciri di atas.

 

Penyebab Autisme

Belum diketahui dengan pasti apa penyebab Autisme. Tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempengaruhi kondisi tersebut, seperti:

1. Jenis kelamin

Anak laki-laki mengalami resiko 4 kali lebih besar mengalami Autisme dibanding perempuan.

2. Faktor genetik

Sekitar 2-18% orang tua dari anak dengan Autisme, beresiko memiliki anak kedua dengan gangguan yang sama.

3. Kelahiran prematur

Bayi yang kebetulan lahir pada masa kehamilan 26 minggu atau kurang.

4. Lahir kembar

Jika kembar tidak identik, ada kemungkinan sampai 31% dapat terjadi Autisme kepada kedua anak. Jika kembar identik, maka kemungkinannya bisa mencapai 36-95%.

5. Usia

Semakin tua usia orang tua saat memiliki anak, maka resiko memiliki anak dengan Autisme juga semakin tinggi. Untuk pria diatas 40 tahun, terdapat resiko lebih dari 28%. Dan meningkat menjadi 66% di usia 50 tahun. Sedangkan wanita diatas 40 tahun, memiliki resiko hingga 77%. 

5. Konsumsi alkohol

Mengonsumsi alkohol atau obat-obatan terutama obat epilepsi selama masa kehamilan, meningkatkan resiko lahir anak dengan Autisme.

 

Tidak ada keterkaitan antara pemberian vaksin dengan diagnosa Autisme pada seseorang. Namun pada beberapa kasus, diet makanan-makanan juga dapat membantu kondisi mereka.

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *