• 0813-8074-1898
  • yayasanmpati@gmail.com
  • Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Dukungan
Merasakan Apa yang Dito Rasakan

Merasakan Apa yang Dito Rasakan

Kondisi jalan yang (di luar dugaan) cukup lancar pagi tadi membuatku tiba lebih awal di tempat pencucian mobil. Ruang tunggu di lantai dua masih kosong, jadi aku bisa leluasa memilih tempat duduk di sudut dekat jendela agar mudah melihat ke bawah dan segera turun saat mobilku sudah siap. Suasana sepi membuatku nyaman membaca dan membalas satu per satu pesan yang masuk ke gawaiku. Suara desiran halus dari alat pendingin udara anehnya bisa membuatku merasa lebih santai.

Tapi ternyata keheningan itu tak bertahan lama.

Kudengar hentakan berat langkah dua pasang kaki menaiki tangga disertai celotehan riuh para pemiliknya yang asyik bertukar cerita. Semerbak wangi parfum seketika merebak memasuki ruangan mendahului sumbernya. Lalu tampaklah di ujung tangga, dua perempuan berusia akhir 20-an atau awal 30-an dengan gaya yang senada; riasan wajah komplit, busana casual paduan kemeja, skinny jeans, dan tas trendi. Mereka melenggang berderap membahana di atas wedges berwarna netral, masing-masing menggenggam gawai berbungkus modis.

Salah satunya membalas senyum sapaku lalu duduk di sudut yang berseberangan denganku, sedangkan yang lain tampak acuh dan langsung menyalakan televisi tanpa memilih saluran tertentu. Dia membiarkan suara keras televisi memenuhi ruangan tanpa mengaturnya lagi. Puas dengan hingar bingar itu, ia pun duduk di sebelah temannya. Keduanya langsung melanjutkan pertukaran cerita (tetap) dengan suara keras sambil sibuk dengan gawai masing-masing. Si acuh memutar video di gawainya (juga) dengan volume suara keras. Dia menunjukkan ke temannya yang ia tonton. Namun, temannya tidak tertarik dan memilih tetap fokus pada gawainya sendiri. Meski begitu, riuh rendah pertukaran cerita mereka pun tetap berlangsung seru, mengabaikan keberadaanku di ruangan yang sama. Tatapan mata mereka juga masih lekat pada gawai masing-masing, mengabaikan televisi yang menjerit-jerit minta perhatian.

Aduh…, beberapa inderaku terpaksa bekerja keras menyaring berbagai rangsangan yang datang membanjiri diriku. Mataku berjuang mengabaikan bahasa tubuh si acuh yang kurang bersahabat dan berusaha kembali fokus pada pesan-pesan yang masih bertumpuk di gawaiku. Hidungku kewalahan menerima serbuan aroma parfum yang menyengat hebat. Dan telingaku, oh, telingaku yang malang.

Agak tergesa-gesa kubuka kancing tarik tas selempangku dan membenamkan tanganku ke dalamnya untuk mengambil earphone. Tanpa melambatkan gerakan tangan, kuurai gulungan kabelnya dan segera menancapkan ujungnya ke gawaiku. Aku merasa perlu segera menyelamatkan telingaku dengan mengarahkannya hanya pada satu sumber suara saja. Biasanya aku tidak pernah menyetel volume melebih angka delapan, tapi kali ini perlu batas tertinggi untuk menghalangi masuknya badai suara dari sekitar. Dengan earphone tersumpal di kedua telinga, aku kembali fokus pada gawaiku. Sesekali aku membiarkan mataku menyapu pemandangan di sudut seberang. Gerakan bibir-bibir di ujung sana masih kental bernuansa rumpi.

Tiba-tiba aku tidak tertarik lagi untuk membalas tumpukan pesan di gawai. Sambil terus memperhatikan gerakan bibir-bibir di seberang sana, otakku berusaha merangkai seluruh data yang tertangkap oleh mataku. Gerakan bibir, ekspresi wajah, bahasa tubuh, juga gaya busana kedua perempuan di depanku. Tentu saja aku hanya mampu mengandalkan indera penglihatan, karena telingaku masih tersumpal earphone.

Dalam kondisi seperti ini, aku bisa membayangkan rasanya menjadi Dito. Merasa terasing di sudutku tanpa mampu memahami orang-orang di sekitarku, sama sekali bukan hal mudah untuk dilalui. Aku merasakan badai suara selama beberapa menit saja sudah buru-buru mencari sumbat telinga. Dito harus melaluinya sepanjang hari tanpa bantuan alat apapun yang dapat melindungi telinganya; hanya sesekali menekankan jemari kecilnya menutupi lubang telinga kalau sudah sangat tidak tahan.

Baru beberapa menit juga memaksa diri berjuang memahami orang lain dengan hanya mengandalkan mata, aku sudah merasa terasing dan ‘kesepian’. Dito merasakannya hampir setiap waktu. Aku masih bisa membuat diriku terhubung dengan komunitas lain di luar ruangan ini dengan gawaiku. Dito benar-benar harus menghadapi ‘kesepian’-nya sendiri.

Dito-ku yang tabah.

Maafkan aku, Nak, yang seringkali terlalu keras menuntutmu untuk memahami kami, mematuhi etika sosial yang rumit, dan memaksamu untuk belajar banyak hal dengan cara kami.

Dan tanpa terasa, mataku tertutup tirai bening yang dengan cepat berubah menjadi aliran hangat di pipiku. Sementara lantunan merdu Ave Verum karya Mozart memenuhi telingaku.

Ave…, ave…, verum corpus

natum de Maria Virgine

Vere passum immolatum

in cruce pro homine

Cujus latus perforatum

unda fluxit cum sanguine

Esto nobis praegustatum

in mortis examine

in mortis examine

 

Penulis adalah Adyani Prihadi, ibu dari Dito (ASD berusia 18 tahun)

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *