• 0813-8074-1898
  • yayasanmpati@gmail.com
  • Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Pendidikan
7 Tahapan Kemandirian Anak dengan Autisme: Panduan Lengkap untuk Orang Tua

7 Tahapan Kemandirian Anak dengan Autisme: Panduan Lengkap untuk Orang Tua

Anak dengan autisme sering menghadapi tantangan dalam mengembangkan kemandirian. Kemandirian adalah kunci bagi anak dengan Autisme untuk bisa berfungsi di dalam kehidupan sehari-hari. Semakin dini orang tua membangun kemandirian di dalam diri anak, semakin anak bisa melakukan banyak hal sendiri.

Sebelum membahas tahapan membangun kemandirian dalam diri anak, orang tua perlu melepas pola pikir yang membatasi perkembangan anak. Beberapa pola pikir yang membatasi keyakinan orang tua pada anak adalah sebagai berikut:

  • “Anak aku akan begini terus”
  • “Kasian dia, biar aku bantu saja”
  • “Nanti akan gimana di masa depan”
  • “Yang penting anakku…”
  • “Segini aja cukup”

Pola pikir yang membatasi diri anak secara tidak sadar akan berpengaruh pada pola asuh orang tua. Orang tua jadi lebih takut untuk mencoba sesuatu yang baru dan tidak mempercayai kemampuan anak. Pola pikir yang mengekang ini juga berpengaruh terhadap komunikasi orang tua ke anak, mulai dari intonasi suara hingga gestur tubuh.

Orang tua perlu melepas pola pikir itu, dan mulai membangun hubungan yang baik dengan anak. Orang tua akan lebih mengenal diri dan potensi anaknya apabila komunikasi dibangun setiap hari. Menurut Psikolog, Dianda Azani, dalam seminar Spekix 11 Mei 2024 lalu, ada beberapa elemen orang tua menjalin hubungan dengan anak, yaitu:

Daftar Isi

1. Keterhubungan

Anak dengan Autisme memiliki caranya sendiri untuk membangun keterhubungan dengan orang tua. Dengan anak menggumamkan, “Mama, mama,” itu adalah tanda anak mulai terhubung dengan orang tuanya.

2. Kelekatan

Dari keterhubungan, muncul kelekatan. Anak akan merasa aman ketika ada sosok yang berada dekat dengannya, misalnya ayah atau ibu. Dengan kehadiran sosok, anak jadi lebih berani mengeksplorasi lingkungannya. Rasa percaya dan berani ini muncul karena orang tua melakukan interaksi yang kontinyu kepada anak. Alhasil, anak merasa aman.

Setelah menjalin hubungan, orang tua mulai bisa membangun kemandirian anak dengan Autisme. Adapun tahapannya adalah sebagai berikut:

Tahap 1: Membangun Rutinitas yang Konsisten

Rutinitas menjadi pintu masuk untuk membangun kemandirian anak. Anak dengan Autisme cenderung lebih nyaman apabila ada jadwal yang teratur. Ini juga terkonfirmasi oleh Ibu Dewi Semarabhawa, Ibu dari ananda dengan Autisme. Dia membuat jadwal harian agar Abi bisa berkegiatan dengan teratur.

Mulailah dengan membuat rutinitas harian yang konsisten, termasuk waktu makan, mandi, dan tidur. Gunakan gambar atau jadwal visual untuk membantu anak memahami aktivitas sehari-hari. Rutinitas yang konsisten membantu anak belajar apa yang diharapkan dan mengurangi kecemasan.

Tahap 2: Mengajarkan Keterampilan Dasar

Setelah membuat rutinitas, penting untuk menyisipkan pengajaran keterampilan dasar, mulai dari makan sendiri, memakai sepatu, mengenakan baju, hingga merawat diri. Tidak perlu langsung melakukan langkah besar. Orang tua bisa mulai dengan langkah kecil dan sederhana. Misalnya, anak diajarkan memegang sendok sendiri.

Ketika anak berhasil melakukan apa yang diperintahkan, berikan anak pujian dan penghargaan. Memang tidak mudah mengajarkan anak. Orang tua harus punya kesabaran yang tinggi dan memberi waktu yang cukup bagi anak untuk belajar.

Tahap 3: Melatih Keterampilan Komunikasi

Ini salah satu kesulitan yang sering orang tua temui. Sebagian anak dengan Autisme kesulitan berkomunikasi. Namun, seperti dalam banyak kasus, kemampuan komunikasi juga bisa dikembangkan.

Ada beragam metode yang bisa orang tua coba. Orang tua bisa mulai dengan mengajarkan anak berkomunikasi lewat gambar. Bisa juga lewat bahasa isyarat. Atau orang tua bisa melatih anaknya dengan alat bantu komunikasi. Latih anak untuk mengungkapkan kebutuhan dan keinginan mereka.

Tahap 4: Mengembangkan Keterampilan Sosial

Ketika anak sudah mulai bisa keterampilan komunikasi, anak perlu diajarkan keterampilan sosial. Ini mungkin yang paling sulit, tetapi anak butuh keterampilan sosial agar bisa beradaptasi di masyarakat. Orang tua bisa mulai dari lingkungan keluarga karena setidaknya, orang tua punya sedikit kendali tentang bagaimana saudara-saudaranya merespon.

Anak bisa diajarkan untuk menyapa sepupunya, dan mulai berbicara tentang hal-hal kecil. Orang tua bisa menggunakan permainan peran untuk melatih keterampilan ini. Cara lain adalah dengan mendorong anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok seperti bermain di taman atau mengikuti kelas hobi. Ini membantu mereka belajar berinteraksi dalam berbagai situasi sosial.

Tahap 5: Mengajarkan Keterampilan Manajemen Diri

Kemampuan penting lainnya adalah soal manajemen diri. Manajemen diri berkaitan dengan mengendalikan emosi dan perilaku. Mengajarkan keterampilan manajemen diri membantu anak mengontrol emosi dan perilaku mereka.

Orang tua bisa mengajarkan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau yoga untuk membantu anak mengatasi stres. Buatlah aturan yang jelas dan konsisten, serta berikan konsekuensi yang sesuai untuk perilaku yang tidak diinginkan. Dengan keterampilan manajemen diri yang baik, anak dapat lebih mandiri dalam menghadapi situasi yang menantang.

Tahap 6: Memperkenalkan Keterampilan Akademik dan Vokasional

Ini penting bagi sebagian orang, tetapi ada juga beberapa orang tua yang fokus di minat dan bakat anak. Terlepas dari itu, kemampuan akademik dan vokasional punya tempat khusus di dalam pengembangan kemandirian anak. Setidaknya, beberapa kemampuan seperti membaca atau keterampilan komputer penting untuk anak pelajari. Tentu, mengajarkan keterampilan ini perlu mempertimbangkan minat anak. Jika anak tidak minat, lebih baik orang tua tidak memaksakan.

Tahap 7: Mendorong Kemandirian dalam Aktivitas Sehari-hari

Dorong anak untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Mulailah dengan tugas-tugas sederhana seperti membereskan mainan, membantu menyiapkan makanan, atau mengurus kebersihan diri. Berikan instruksi yang jelas dan dukungan sesuai kebutuhan. Dengan latihan yang konsisten, anak akan merasa lebih percaya diri dan mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

 

Mengembangkan kemandirian pada anak dengan autisme memerlukan kesabaran, konsistensi, dan dukungan yang tepat. Rambu-rambu yang harus diikuti adalah orang tua perlu mengajarkan kemandirian sesuai profil anak. Tingkatkan pengajaran secara bertahap setelah memastikan anak menguasai kemampuan yang telah diajarkan.

Yang terpenting adalah orang tua perlu mendukung anak sepenuh hati. Ingatlah bahwa setiap anak adalah unik, dan kemajuan mungkin berlangsung secara bertahap. Berikan dukungan penuh dan rayakan setiap pencapaian, sekecil apapun itu.

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *