{"id":10930,"date":"2025-02-17T15:24:38","date_gmt":"2025-02-17T08:24:38","guid":{"rendered":"https:\/\/autismindonesia.org\/?p=10930"},"modified":"2025-02-17T15:24:53","modified_gmt":"2025-02-17T08:24:53","slug":"4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/","title":{"rendered":"4 Strategi Orang Tua untuk Menerima Diagnosis Anak dengan Autisme"},"content":{"rendered":"<p>Menjadi orang tua adalah salah satu pengalaman yang paling indah dan menantang dalam hidup. Namun, ketika anak kita didiagnosis dengan Autisme, perasaan <em>denial<\/em> (menolak kenyataan) sering kali muncul. Rasanya seperti dunia kita runtuh, dan kita harus berjuang untuk menemukan pijakan yang kokoh.<\/p>\n<p>Dalam perjalanan ini, penting untuk mengetahui bahwa kita tidak sendirian. Banyak orang tua mengalami perasaan yang sama, dan ada cara untuk menghadapinya. Mari kita bahas empat strategi yang dapat membantu dalam proses menerima diagnosis anak.<\/p>\n<h4><strong>Memberi ruang untuk perasaan<\/strong><\/h4>\n<p>Langkah pertama yang penting adalah memberi diri izin untuk merasakan apa yang kita rasakan. Perasaan <em>denial<\/em> bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau sembunyikan. Ini adalah bagian dari proses penerimaan. Kita mungkin merasa marah, bingung, atau bahkan merasa bersalah. Semua perasaan ini adalah reaksi yang wajar. Kita tidak perlu menjadi hakim untuk perasaan kita sendiri.<\/p>\n<p>Bagi yang belum pernah membuat tulisan atau jurnal (<em>journaling<\/em>), ini bisa menjadi cara yang bisa dicoba dilakukan. <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/abs\/pii\/S0197455621000824\"><em>Journaling<\/em><\/a> (catatan harian) bisa menciptakan peluang baru bagi orang tua untuk berfokus pada anak. Selain itu, <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/abs\/pii\/S0197455621000824\"><em>Journaling<\/em><\/a><a href=\"#_edn1\" name=\"_ednref1\">[1] <\/a>mendorong perubahan pada orang tua dan anak karena adanya perubahan terhadap cara pandang orang tua terhadap Autisme.<\/p>\n<h4><strong>Mencari pengetahuan<\/strong><\/h4>\n<p>Setelah memberi ruang untuk perasaan, langkah selanjutnya adalah mencari informasi. Pengetahuan dapat menjadi alat yang sangat kuat dalam mengatasi <em>denial<\/em>. Dengan memahami lebih dalam tentang Autisme, kita mulai melihat bahwa diagnosis Autisme bukanlah akhir dari segalanya.<\/p>\n<p>Saat ini, sudah banyak sumber informasi tentang Autisme, mulai dari buku, artikel yang kredibel di internet, hingga YouTube. Keputusan kitalah yang menentukan sumber informasi apa yang akan kita pilih, untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan kita.<\/p>\n<h4><strong>Membangun jaringan dukungan<\/strong><\/h4>\n<p>Melalui fase <em>denial<\/em> bukanlah sesuatu yang harus dilakukan sendirian. Membangun jaringan dukungan adalah langkah penting dalam perjalanan ini. Ada banyak komunitas Autisme yang bisa diikuti, baik <em>offline<\/em> maupun <em>online<\/em>. Para orang tua di komunitas akan dengan senang hati berbagi pengalamannya. Kita pun juga mendapatkan sudut pandang baru.<\/p>\n<p>Di dalam komunitas, kita juga bisa berbagi cerita, tantangan, dan tips. Kita juga bisa mendapatkan informasi tentang tempat terapi atau intervensi yang mungkin bermanfaat untuk anak. <a href=\"https:\/\/journals.sagepub.com\/doi\/abs\/10.1177\/1359105311422955\">Dalam beberapa kasus<\/a><a href=\"#_edn2\" name=\"_ednref2\">[2]<\/a>, komunitas juga memberi kesempatan untuk membuat perbandingan yang lebih rendah yang membuat mereka merasa lebih beruntung.<\/p>\n<h4><strong>Mencari bantuan profesional<\/strong><\/h4>\n<p>Pergi ke terapis, psikolog, maupun konsuler bukan lagi hal yang tabu. Kesehatan mental menjadi hal yang penting bagi siapapun. Oleh karena itu, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Profesional dapat membantu untuk mengatasi perasaan <em>denial<\/em> dan membimbing kita dalam proses penerimaan. Mereka dapat memberikan strategi yang efektif untuk menjadi tangguh, serta cara terbaik untuk mendukung anak.<\/p>\n<p>Bantuan profesional juga bisa sangat berharga dalam memberikan panduan tentang cara berkomunikasi dengan anak. Mereka dapat membantu memahami kebutuhan anak, dan bagaimana cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan anak.<\/p>\n<h4><strong>Menuju penerimaan: Pengalaman Steve<\/strong><\/h4>\n<p>Perjalanan menerima diagnosis anak bukanlah perkara mudah. Itulah yang dirasakan oleh salah satu ayah yang bernama Steve<a href=\"#_edn3\" name=\"_ednref3\">[3]. <\/a>Ketika dia mengetahui bahwa anaknya mengalami Autisme, dunianya seolah runtuh. Steve merasa terguncang dan bertanya-tanya, &#8220;<em>Apa salah saya? Kenapa saya harus menghadapi kenyataan ini?&#8221;<\/em><\/p>\n<p>Awalnya, Steve tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Dia marah, dan merasa dunia tidak adil. Steve berusaha untuk menawar, berharap kondisisnya tidak seburuk yang dibayangkan. Namun, kenyataan tetap tak terelakkan, dan dia terjebak dalam fase depresi. Seiring waktu, Steve akhirnya mengakui bahwa kenyataan harus diterima.<\/p>\n<p>Saat sudah menerima itulah, Steve mencari jalan keluar. Langkah pertama yang dia lalui adalah membawa anak-anaknya ke dokter untuk mendapatkan diagnosis. Ia juga menggali ilmu tentang Autisme, dan berusaha memahami anak-anaknya lebih baik. Bersama sang istri, Steve membagi tanggung jawab dan membuat rencana terapi yang dibutuhkan.<\/p>\n<p>Selama lebih dari lima tahun, Steve dan sang istri menjalani proses tersebut. Namun, saat anak pertama mengalami epilepsi, rasa cemas dan takut selalu menghantuinya. Ia ingat ketika menerima kabar bahwa anaknya jatuh dan giginya patah, dia merasa tidak berdaya.<\/p>\n<p>Setelah lebih dari sepuluh tahun, Steve memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan dan fokus merawat anak-anak. Keputusan itu sulit, tetapi ia tahu ini adalah langkah yang tepat. Dalam perjalanan ini, ia belajar bahwa cinta dan dukungan tanpa syarat adalah kunci untuk membantu anak-anaknya.<\/p>\n<h4><strong>Kesimpulan<\/strong><\/h4>\n<p>Perjalanan dari <em>denial<\/em> menuju penerimaan adalah proses yang panjang, penuh warna, dan sarat emosi. Namun, dengan memahami setiap fase dan memberi diri izin untuk merasakan emosi yang dialami, kita dapat menemukan jalan menuju penerimaan. Ingatlah, kita tidak sendirian dalam perjalanan ini. Ada banyak dukungan yang tersedia. Dengan setiap langkah yang diambil, kita semakin dekat untuk menemukan kedamaian dalam hati.<\/p>\n<p>Marilah terus bergerak maju! Percayalah, penerimaan adalah langkah menuju kehidupan yang lebih baik untuk anak dan keluarga.<\/p>\n<h4>Referensi<\/h4>\n<p><a href=\"#_ednref1\" name=\"_edn1\">[1]<\/a> Park, J. E. (2021). Effectiveness of creative arts-based parent training for parents with children with Autism Spectrum Disorder. <em>The Arts in Psychotherapy<\/em>, <em>76<\/em>, 101837. https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.aip.2021.101837<\/p>\n<p><a href=\"#_ednref2\" name=\"_edn2\">[2]<\/a> Ludlow, A., Skelly, C., &amp; Rohleder, P. (2011). Challenges faced by parents of children diagnosed with autism spectrum disorder. <em>Journal of Health Psychology<\/em>, <em>17<\/em>(5), 702\u2013711. https:\/\/doi.org\/10.1177\/1359105311422955<\/p>\n<p><a href=\"#_ednref3\" name=\"_edn3\">[3]<\/a> Masyarakat Peduli Autis Indonesia Yayasan MPATI. (2021, December 4). Cerita Keluarga MPATI: Let\u2019s Hear It from the Fathers: Membangun Quality Time bersama Anak [Video]. YouTube. https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=c3_h0hvN7Po<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi orang tua adalah salah satu pengalaman yang paling indah dan menantang dalam hidup. Namun, ketika anak kita didiagnosis dengan Autisme, perasaan denial (menolak kenyataan)&#8230;<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":10940,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_post_transparent":"default","_kad_post_title":"default","_kad_post_layout":"default","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"default","_kad_post_vertical_padding":"default","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"footnotes":""},"categories":[8,116],"tags":[210,209],"class_list":["post-10930","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-diagnosa","category-wawasan","tag-menerima-diagnosis","tag-strategi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>4 Strategi Orang Tua untuk Menerima Diagnosis Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Menjadi orang tua adalah salah satu pengalaman yang paling indah dan menantang dalam hidup. Namun, ketika anak kita didiagnosis dengan Autisme, perasaan denial (menolak kenyataan) sering kali muncul. Rasanya seperti dunia kita runtuh, dan kita harus berjuang untuk menemukan pijakan yang kokoh.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"4 Strategi Orang Tua untuk Menerima Diagnosis Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Menjadi orang tua adalah salah satu pengalaman yang paling indah dan menantang dalam hidup. Namun, ketika anak kita didiagnosis dengan Autisme, perasaan denial (menolak kenyataan) sering kali muncul. Rasanya seperti dunia kita runtuh, dan kita harus berjuang untuk menemukan pijakan yang kokoh.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Yayasan MPATI\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-02-17T08:24:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-02-17T08:24:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/MPATI-Digital-Image-7.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381\"},\"headline\":\"4 Strategi Orang Tua untuk Menerima Diagnosis Anak dengan Autisme\",\"datePublished\":\"2025-02-17T08:24:38+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-17T08:24:53+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/\"},\"wordCount\":829,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/MPATI-Digital-Image-7.webp\",\"keywords\":[\"Menerima diagnosis\",\"Strategi\"],\"articleSection\":[\"Diagnosa\",\"Wawasan\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/\",\"name\":\"4 Strategi Orang Tua untuk Menerima Diagnosis Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/MPATI-Digital-Image-7.webp\",\"datePublished\":\"2025-02-17T08:24:38+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-17T08:24:53+00:00\",\"description\":\"Menjadi orang tua adalah salah satu pengalaman yang paling indah dan menantang dalam hidup. Namun, ketika anak kita didiagnosis dengan Autisme, perasaan denial (menolak kenyataan) sering kali muncul. Rasanya seperti dunia kita runtuh, dan kita harus berjuang untuk menemukan pijakan yang kokoh.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/MPATI-Digital-Image-7.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/MPATI-Digital-Image-7.webp\",\"width\":1920,\"height\":1080},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"4 Strategi Orang Tua untuk Menerima Diagnosis Anak dengan Autisme\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\",\"name\":\"Yayasan MPATI\",\"description\":\"Sebuah yayasan yang memiliki cita-cita untuk mengubah stigma autisme di masyarakat\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#organization\",\"name\":\"Yayasan MPATI\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/11\\\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg\",\"width\":800,\"height\":309,\"caption\":\"Yayasan MPATI\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/autismeindonesia.org\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/autismindonesia.org\\\/en\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"4 Strategi Orang Tua untuk Menerima Diagnosis Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI","description":"Menjadi orang tua adalah salah satu pengalaman yang paling indah dan menantang dalam hidup. Namun, ketika anak kita didiagnosis dengan Autisme, perasaan denial (menolak kenyataan) sering kali muncul. Rasanya seperti dunia kita runtuh, dan kita harus berjuang untuk menemukan pijakan yang kokoh.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"4 Strategi Orang Tua untuk Menerima Diagnosis Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI","og_description":"Menjadi orang tua adalah salah satu pengalaman yang paling indah dan menantang dalam hidup. Namun, ketika anak kita didiagnosis dengan Autisme, perasaan denial (menolak kenyataan) sering kali muncul. Rasanya seperti dunia kita runtuh, dan kita harus berjuang untuk menemukan pijakan yang kokoh.","og_url":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/","og_site_name":"Yayasan MPATI","article_published_time":"2025-02-17T08:24:38+00:00","article_modified_time":"2025-02-17T08:24:53+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/MPATI-Digital-Image-7.webp","type":"image\/webp"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/person\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381"},"headline":"4 Strategi Orang Tua untuk Menerima Diagnosis Anak dengan Autisme","datePublished":"2025-02-17T08:24:38+00:00","dateModified":"2025-02-17T08:24:53+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/"},"wordCount":829,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/MPATI-Digital-Image-7.webp","keywords":["Menerima diagnosis","Strategi"],"articleSection":["Diagnosa","Wawasan"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/","name":"4 Strategi Orang Tua untuk Menerima Diagnosis Anak dengan Autisme - Yayasan MPATI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/MPATI-Digital-Image-7.webp","datePublished":"2025-02-17T08:24:38+00:00","dateModified":"2025-02-17T08:24:53+00:00","description":"Menjadi orang tua adalah salah satu pengalaman yang paling indah dan menantang dalam hidup. Namun, ketika anak kita didiagnosis dengan Autisme, perasaan denial (menolak kenyataan) sering kali muncul. Rasanya seperti dunia kita runtuh, dan kita harus berjuang untuk menemukan pijakan yang kokoh.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/#primaryimage","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/MPATI-Digital-Image-7.webp","contentUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/MPATI-Digital-Image-7.webp","width":1920,"height":1080},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/4-strategi-orang-tua-untuk-menerima-diagnosis-anak-dengan-autisme\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/autismindonesia.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"4 Strategi Orang Tua untuk Menerima Diagnosis Anak dengan Autisme"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#website","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/","name":"Yayasan MPATI","description":"Sebuah yayasan yang memiliki cita-cita untuk mengubah stigma autisme di masyarakat","publisher":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/autismindonesia.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#organization","name":"Yayasan MPATI","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg","contentUrl":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/cropped-cropped-Mpati-logo-square.jpg","width":800,"height":309,"caption":"Yayasan MPATI"},"image":{"@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/autismindonesia.org\/#\/schema\/person\/7b00660f849ef5ba6d91fba04b690381","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/7d2765e6934f605d49eb50e8e7206e894ba9b1e85c525403a990424b1d58763f?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/autismeindonesia.org"],"url":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/author\/admin\/"}]}},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/autismindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/MPATI-Digital-Image-7.webp","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10930","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10930"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10930\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10941,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10930\/revisions\/10941"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10940"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10930"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10930"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/autismindonesia.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10930"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}